-
Amerika Serikat menegaskan tetap membuka pintu resolusi diplomatik yang damai dengan pihak Iran.
-
Serangan militer AS malam kesembilan dipicu pelanggaran kesepakatan pengamanan di Selat Hormuz.
-
Menlu Marco Rubio mengingatkan kegagalan diplomasi akan memperburuk situasi perekonomian internal Iran.
Suara.com - Amerika Serikat secara terbuka menyatakan tetap membuka peluang resolusi diplomatik demi mengakhiri konflik dengan Iran. Langkah damai ini tetap ditawarkan meskipun kekuatan militer Pentagon baru saja melancarkan gempuran malam kesembilan berturut-turut.
Pernyataan strategis tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio. Komitmen ini diungkapkan sesaat sebelum dirinya bertolak menuju Manila untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN.
“Amerika Serikat selalu terbuka terhadap solusi diplomatik. Kami telah mencoba berkali-kali dengan Iran, dan kami akan terus mencoba. Jika pintu itu terbuka, kami akan senang melihatnya,” ujar Rubio.
![US Secretary of State Marco Rubio [Officiel Instagram]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/03/43037-us-secretary-of-state-marco-rubio.jpg)
Ketegangan terbaru dipicu oleh tindakan sepihak Teheran yang dinilai mengancam jalur perdagangan internasional. AS mengecam keras aksi pemblokiran wilayah maritim dan penyerangan terhadap armada kapal yang melintasi kawasan vital tersebut.
Padahal, kedua negara sebelumnya telah mengesahkan nota kesepahaman pada Juni lalu. Kesepakatan tersebut dirancang khusus untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus memulihkan kelancaran arus lalu lintas di Selat Hormuz.
Aksi militer yang agresif dari pihak Iran dinilai telah mencederai poin-poin penting yang disepakati bersama. Akibatnya, efektivitas dari nota kesepahaman yang telah ditandatangani kini berada di ujung tanduk.
“Mereka tidak bisa memiliki MOU yang hidup jika mereka melanggar ketentuan di dalamnya,” tegas Rubio.
Pemerintah AS melihat adanya ketidakselarasan antara pernyataan politik Iran dan tindakan nyata mereka di lapangan. Sikap mendua ini yang mendasari sekutu mengambil tindakan defensif yang lebih tegas di wilayah konflik.
“Mereka terus mengirimkan sinyal bahwa mereka ingin berbicara, bahwa mereka ingin bernegosiasi, tetapi perilaku mereka adalah apa yang kami tanggapi, dan perilaku mereka adalah mereka meluncurkan rudal dan drone terhadap kapal-kapal, termasuk malam ini,” tambahnya.
Kondisi geopolitik yang tidak menentu ini dikhawatirkan akan membawa dampak buruk jangka panjang bagi stabilitas internal Teheran. AS memproyeksikan kerugian besar bagi pihak lawan apabila jalur negosiasi benar-benar tertutup rapat.
Saat ditanya mengenai konsekuensi yang harus dihadapi jika seluruh upaya negosiasi ini berujung pada kegagalan total, Rubio memberikan jawaban yang lugas.
“Saya pikir itu tidak akan baik bagi Iran. Maksud saya, perekonomian Iran berada dalam kekacauan,” jawab Rubio saat menanggapi pertanyaan dari jurnalis CNN, Kit Maher.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz merupakan krisis berkepanjangan yang melibatkan stabilitas ekonomi dunia. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur logistik minyak mentah paling krusial di global yang menghubungkan produsen Timur Tengah dengan pasar internasional.
Konflik eskalatif ini kembali mencuat setelah serangkaian serangan pesawat tanpa awak dan rudal menyasar kapal-kapal komersial di rute tersebut. Hubungan diplomatik yang sempat menunjukkan sinyal positif lewat kesepakatan pemulihan lalu lintas air pada Juni lalu kini kembali memanas akibat aksi saling balas di medan tempur.