-
Rentetan serangan rudal Iran di Selat Hormuz memicu ketakutan massal kru kapal tanker.
-
Volume lalu lintas kapal tanker minyak mentah dunia merosot ke titik terendah.
-
Bonus uang tidak lagi mampu membujuk pelaut melintasi jalur laut penuh ranjau.
Suara.com - Ketakutan massal kini melanda para kru kapal tanker internasional setelah rentetan serangan rudal Iran melumpuhkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Jalur perdagangan minyak paling vital di dunia tersebut kini berada dalam situasi terburuk akibat eskalasi militer yang kian tidak terkendali.
Penurunan drastis jumlah pelayaran mencerminkan kecemasan mendalam para pelaut yang menolak bertaruh nyawa di zona konflik. Blokade laut dan ancaman ranjau bawah air membuat koridor navigasi ini hampir mustahil untuk dilalui dengan aman.
Direktur Utama perusahaan jasa risiko maritim Marisks yang berbasis di Athena, Dimitris Maniatis, mengungkapkan kecemasan para pelaut di lapangan saat ini sudah melampaui batas wajar. Kondisi psikologis pekerja kapal menjadi faktor utama yang menghentikan pergerakan logistik global.
![Kapal tanker super (VLCC) milik National Iranian Tanker Company (NITC), dilaporkan memasuki wilayah perairan Indonesia, setelah lolos dari blokade militer AS di Selat Hormuz. [Al Jazeera]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/05/80006-kapal-tanker-iran-masuk-indonesia.jpg)
"Kita melihat pengurangan volume transit melalui Selat Hormuz dan saat ini kru kapal bahkan lebih khawatir daripada sebelumnya," kata Dimitris Maniatis dalam sebuah pengarahan Lloyd’s List Intelligence minggu kemarin dikutip dari CNBC Internasional, Senin (20/7/2026).
"Tidak ada yang mau bergerak," kata Maniatis.
Sedikitnya sembilan kapal telah menjadi sasaran serangan sejak 6 Juli lalu dalam upaya Iran memaksa kapal-kapal melintasi perairan teritorialnya. Langkah sepihak Teheran ini sengaja dirancang guna menghindari rute pesisir Oman yang dijaga ketat oleh militer Amerika Serikat.
Dampak dari agresivitas militer ini telah memakan korban jiwa dan luka-luka di kalangan pekerja maritim global. Satu pelaut tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan terhadap kapal tanker minyak mentah Al Bahyah di lepas pantai Oman pada hari Selasa.
Pada hari yang sama, sebelas pelaut juga mengalami luka-luka akibat serangan terhadap kapal tanker Mombasa B yang sedang menavigasi wilayah dekat Oman. Rentetan serangan mematikan ini menggunakan teknologi persenjataan berat yang menyasar langsung lambung kapal.
Kepala Keamanan BIMCO, Jakob Larsen, memaparkan jenis persenjataan yang dikerahkan dalam konfrontasi tersebut. Penggunaan senjata pemusnah ini menjadi alasan utama di balik penolakan para kru kapal untuk melaut.
"Serangan Iran menggunakan rudal anti-kapal," kata Jakob Larsen.
Faktor finansial dan bonus kompensasi tinggi kini tidak lagi mampu membujuk para pelaut untuk memasuki wilayah perairan Hormuz. Rasa takut akan ancaman kematian akibat ledakan rudal atau ranjau laut telah mendominasi keputusan akhir dari setiap pelayaran.
"Semua ini beresonansi dengan para kru dan saat ini mereka tidak terlalu senang untuk pergi tidak peduli apa pun yang dijanjikan kepada mereka," kata Maniatis.
"Ini bukan tentang uang lagi. Ini bukan tentang panggilan yang lebih tinggi. Ini murni tentang ketakutan yang mengatur pengambilan keputusan saat ini."
Ketegangan semakin memuncak saat militer Amerika Serikat melumpuhkan sebuah kapal tanker tanpa muatan berbendera Curacao, M/T Belma, pada hari Rabu. Kapal tersebut terpaksa dihentikan setelah mengabaikan peringatan berulang saat bergerak menuju Pulau Kharg milik Iran di tengah pemberlakuan kembali blokade laut oleh AS.
Rute konvensional di tengah Selat Hormuz yang dikenal sebagai skema pemisahan lalu lintas kini sepenuhnya tidak dapat digunakan. Ancaman senjata tersembunyi di bawah permukaan air menjadi hantu menakutkan bagi setiap kapal yang melintas.