-
Ledakan gas metana meruntuhkan terowongan proyek PLTA di Sikkim, India.
-
Sebanyak 12 pekerja ditemukan tewas dan 13 lainnya masih terjebak di dalam terowongan.
-
Pemerintah Sikkim menerjunkan tim investigasi khusus untuk mengusut tuntas penyebab ledakan.
Suara.com - Semburan gas metana memicu ledakan dahsyat yang meruntuhkan terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air di Sikkim, India. Insiden tragis di dalam perut bumi ini langsung menewaskan sedikitnya 12 pekerja serta merangkap puluhan lainnya.
Risiko mematikan gas bawah tanah kembali menelan korban jiwa pada proyek infrastruktur berskala besar. Peristiwa ini menyingkap kerentanan keselamatan kerja dalam pembangunan terowongan menembus batuan tebal pegunungan Himalaya.
Dua pekerja berhasil menyelamatkan diri saat ledakan terjadi jauh di dalam terowongan. Namun, 25 orang lainnya terjebak dalam kepungan asap tebal dan gas beracun.
Tim penyelamat merayap masuk hingga kedalaman 1,5 kilometer untuk mengevakuasi para korban. Upaya pencarian berlangsung secara maraton di tengah ancaman reruntuhan susulan.
Petugas kepolisian telah mengonfirmasi jumlah korban meninggal dunia yang berhasil dikeluarkan dari lokasi.
"Dari 25 orang yang terperangkap, sejauh ini kami telah mengevakuasi 12 jenazah, dan tim sedang bekerja untuk menemukan 13 pria lainnya," ujar Inspektur Polisi Sonam D Bhutia, dikutip dari BBC Inggris.
Penyebab utama ledakan diduga berasal dari akumulasi gas metana alami yang terperangkap di lapisan batuan. BUMN pengembang proyek, National Hydroelectric Power Corporation (NHPC), memberikan penjelasan resmi mengenai pemicu bencana tersebut.
NHPC menyatakan insiden terjadi "setelah semburan mendadak gas metana yang diduga terperangkap di dalam batuan, yang memicu ledakan serta menghasilkan asap tebal dan gas beracun". Pemerintah negara bagian Sikkim juga mengonfirmasi adanya pembakaran gas berbahaya tersebut.
Proses penggalian batuan berisiko tinggi memicu kontak antara gas beracun dan percikan api. Kondisi ruang tertutup memperparah dampak ledakan yang terjadi secara tiba-tiba.
Seorang pejabat pemerintah menjelaskan mekanisme bahaya gas alami di dalam terowongan.
"Metana adalah gas alami yang terkadang terperangkap di bawah tanah. Jika penggalian terowongan melepaskannya ke ruang tertutup dan bersentuhan dengan percikan api atau sumber pemantik lain, gas tersebut dapat menyala atau meledak," terangnya.
Tim Badan Penanggulangan Bencana Nasional (NDRF) kini memfokuskan pencarian pada area spesifik sepanjang 200 meter. Area tersebut diprediksi menjadi titik keberadaan 13 pekerja yang masih hilang.
Proses identifikasi terhadap jenazah yang telah dievakuasi terus dilakukan oleh pihak berwenang. Dari tujuh korban yang teridentifikasi, satu orang merupakan warga lokal Sikkim dan selebihnya adalah pekerja migran dari West Bengal, Uttarakhand, serta Assam.
Pemeriksaan otopsi akan segera dijalankan guna memastikan penyebab pasti kematian seluruh korban. Pihak medis menyiapkannya seiring proses evakuasi yang terus berjalan.
Pemerintah Daerah Sikkim mengambil langkah tegas untuk membongkar penyebab pasti kecelakaan kerja fatal ini. Tim investigasi khusus langsung diterjunkan ke lokasi proyek.
Ketua Menteri Sikkim, Prem Singh Tamang, menegaskan komitmennya dalam menindaklanjuti kasus ini.
"Kami telah melibatkan tim ahli untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Kami akan mengambil tindakan berdasarkan hasil temuan tersebut," tegas Tamang kepada awak media.
Terowongan yang runtuh ini dirancang untuk mengalirkan air dari Sungai Teesta menuju turbin pembangkit listrik tenaga air. Proyek ini merupakan bagian dari pengembangan infrastruktur energi strategis pemerintah India di kawasan timur laut pegunungan Himalaya.