-
Suhu Jepang tembus 40 C memicu status hari panas kejam kokushobi di tiga kota.
-
Ratusan warga dilarikan ke rumah sakit hingga menyebabkan peringatan beban berlebih armada ambulans.
-
Pemerintah Tokyo mengimbau pekerja memakai pakaian kasual guna menghadapi gelombang panas ekstrem.
Lonjakan panggilan darurat mendadak membuat otoritas pemadam kebakaran menerbitkan sinyal peringatan beban berlebih armada ambulans.
Petugas mengimbau warga menunda kegiatan di luar ruangan agar tidak memperburuk krisis kapasitas fasilitas kesehatan.
Pemerintah Metropolitan Tokyo secara resmi mengimbau para pekerja kantor menanggalkan jas dan dasi formal demi pakaian kasual.
Penggunaan kaus oblong dan celana pendek kini direkomendasikan agar para pekerja dapat bertahan di tengah cuaca membakar.
Langkah adaptasi ekstrem ini diambil setelah data keselamatan kerja mencatat rekor buruk korban sengatan panas.
Kondisi musim panas di Negeri Sakura dalam beberapa tahun terakhir mengalami lonjakan intensitas ancaman keselamatan secara konsisten.
Tahun lalu, wilayah Isesaki mencatatkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut saat termometer menyentuh angka 41,8 derajat Celsius.
Ancaman ini makin nyata setelah laporan resmi mencatat 1.803 pekerja menjadi korban sengatan panas di tempat kerja dengan 19 kasus kematian.
Klasifikasi suhu tradisional seperti hari panas di atas 25 dan 30 derajat Celsius kini dinilai kurang memadai untuk menggambarkan bahaya terkini.
Fenomena "kokushobi" menjadi bukti nyata betapa krisis iklim global telah merubah iklim kerja dan pola hidup masyarakat Jepang secara dramatis.