- Aliansi Jurnalis Independen mendesak Presiden Prabowo Subianto meminta maaf pada hari Jumat tanggal 24 Juli 2026.
- Permintaan maaf tersebut diajukan karena ucapan Londo Ireng yang dikaitkan dengan profesi jurnalis dinilai sangat merendahkan.
- Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyatakan ada pihak bermental Londo Ireng yang menyamar sebagai jurnalis dan LSM.
Suara.com - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) meminta Presiden Prabowo Subianto menyampaikan permintaan maaf, buntut ucapan 'Londo Ireng' yang dikaitkan dengan profesi jurnalis.
Permintaan agar Kepala Negara meminta maaf ditekankan Ketua Umum AJI Nany Afrida dan Sekretaris Jenderal AJI Bayu Wardhana.
"Kami minta Prabowo minta maaf," kata Nany kepada Suara.com, Jumat (24/7/2026).
Nany mengatakan ucapan Prabowo soal 'Londo Ireng' telah mengecilkan dan mendeletimasikan tugas jurnalis.
"Apa yang diilakukan Prabowo setali dua uang dengan Hotman Paris kemarin. Menghina dan merendahkan," kata Nany.
Menurut Nany, Prabowo seharusnya melakukan perbaiki program kerja, alih-alih melontarkan pernyataan yang dinilai merendakan profesi jurnalis.
"Bukan malah kill the messenger. Bukannya kritik itu lumrah di sebuah negara demokrasi? Terutama yang dikritik ada kebijakan yang ada hubungannya dengan negara," kata Nany.
Sebelum menyoal istilah 'Londo Ireng', Nany mencatat beberapa kali Prabowo telah menunjukkan permusuhan pada jurnalis yang dianggap menunjukkan kegagalan program-program pemerintah.
"Beliau harus lebih banyak lagi belajar bagaimana memperlakukan jurnalis karena jurnalis itu adalah representasi publik yang memilihnya hingga bisa jadi presiden," kata Nany.
"Selain itu perlakuan buruk Presiden pada jurnalis juga akan menunjukkan pada dunia internasional kalau indonesia sebenarnya bukan negara demokrasi melainkan negara yang represif pada media," sambung Nany.
Sebelumnya, AJI mengkritik keras pernyataan Presiden Prabowo menyoal 'Londo Ireng'. Sekjen AJI Bayu menilai ucapan tersebut merendahkan profesi jurnalis.
AJI menyayangkan pernyataan tersebut keluar dari orang nomor sari di republik.
"Ya itu pernyataan yang merendahkan profesi jurnalis. Tidak seharusnya seorang Presiden bercakap seperti itu," kata Bayu kepada Suara.com, Jumat (24/7/2026).
Menurut Bayu, pernyataan Prabowo soal 'Londo Ireng' yang dikaitkan dengan profesi jurnalis merupakan tuduhan tanpa dasar.
Bayu menegaskan dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik, wartawan bekerja mencari dan memberitakan fakta.
"Presiden bilang jurnalis mencari-cari kesalahan karena pemerintah sudah memperbaiki 67 ribu. Faktanya kan memang ada sekolah yang bangunannya rusak," kata Bayu.
Bayu menekankan seharusnya presiden san pemerintah dapat berpikir positif atas pemberitaan yang menyampaikan fakta sekolah rusak.
Melalui fakta yang disajikan media, pemerintah bisa langsung menindaklanjuti.
"Respons yang baik kan berterima kasih ditunjukkan ada sekolah yang masih rusak bangunannya dan pemerintah segera perbaiki. Tapi Presiden malah merasa dicari-cari kesalahan. Penting untuk berpikir positif pada media," kata Bayu.
Sebutan Londo Ireng
Sebelumnya, Presiden Prabowo meyakini ada masyarakat yang bermental Londo Ireng. Hanya saja mereka kini mengenakan baju lain, mulai dari wartawan hingga LSM.
Mengapa Prabowo bicara demikian dan apa yang menjadi dasar Kepala Negara memercayai keberadaan Londo Ireng baik di LSM maupun di media?
Londo Ireng sendiri merupakan istilah yang merujuk kepada pihak-pihak yang dulu justru memihak kepentingan asing atau Belanda, menjadi pengkhianat terhadap saudara atau bangsanya sendiri.
Keyakinan Prabowo ada Londo Ireng yang mengenakan seragan jurnalis dan LSM, diawali oleh keheranan Prabowo atas pemberitaan di salah satu media.
"Saudara-saudara, ada juga media-media yang ya kan walaupun kita sudah perbaiki 67.000 sekolah dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia foto besar taruh di halaman pertama," kata Prabowo di Puncak Harlah ke-28 PKB di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Prabowo menegaskan memahami maksud serta tujuan di pemberitaan terkait. Hanya saja, ia enggan menyebutkan berita dan media yang dimaksud.
"Aduh dia kira kita nggak ngerti, heh, saya nggak sebutlah media mana itu. Kalau saya sebut ya pada saatnya akan saya sebut, kalian sudah tahulah," kata Prabowo.
Meski heran terhadap pemberitaan tersebut, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah yang ia pimpin menjujung tinggi demokrasi, termasuk menerima segala kritik.
"Kita negara demokrasi kita tidak antikritik tapi kita bukan anak kecil," kata Prabowo.
Prabowo menegaskan maksud pernyataannya soal "bukan anak kecil". Pernyataan itu ditujukan untuk menegaskan bahwa Prabowo tidak menutup mata terhadap bangsa sendiri yang justru berpaling dan memihak asing.
"Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng ya. Yang ikut Belanda perang lawan kita," kata Prabowo.
Kepala Negara menikai mentalitas Londo Ireng masih tertanam di bangsa. Tetapi tidak secara terang-terangkan, melainkan ada dalam sejumlah unsur, semisal media, LSM, sampai pengamat.
"Londo-londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan. Wartawan, jurnalis, apa itu pengamat, LSM. LSM harus kita tanya yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphone-mu siapa? Cari pekerjaan susah kita tahu kan?" kata Prabowo.