- Pembangunan gedung baru SDN Cipete Utara 01 di Kebayoran Baru molor hampir setahun akibat penunggakan upah pekerja.
- Proyek sekolah yang ditargetkan selesai dalam enam bulan tersebut sempat terhenti total selama empat bulan lamanya.
- Dampak keterlambatan membuat kegiatan belajar siswa terpaksa dipindahkan serta berjalan kurang maksimal di SD BaPem.
Suara.com - Pembangunan gedung baru SDN Cipete Utara 01 di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, molor hampir setahun dan viral di media sosial.
Keterlambatan itu diduga terjadi karena proyek sempat terhenti selama sekitar empat bulan akibat upah sejumlah pekerja belum dibayarkan.
Iin Solihin (48), warga sekitar, mengatakan proyek tersebut sebenarnya ditargetkan selesai dalam waktu enam bulan saja.
"Saya juga dengar dari orang-orang dalam ya. Model pemborong, saya kenal sih," kata Iin, di lokasi, Jumat (24/7/2026).
Target itu dibuat agar gedung sekolah bisa digunakan untuk kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran baru 2026/2027.
Namun, rencana meleset setelah para pekerja menghentikan aktivitas pembangunan imbas upah yang menunggak.
![Pembangunan gedung baru SDN Cipete Utara 01 di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, molor hampir setahun dan viral di media sosial. [Suara.com/Adiyoga Priyambodo]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/25/31528-sdn-cipete-utara.jpg)
"Yang saya dengar, jadi yang kerja sudah pada pulang, pada berhenti dulu," tutur Iin lagi.
"Kalau dibayar sih pasti dibayar kan, katanya. Cuma ada yang 2 bulan belum dibayar, 3 bulan. Jadi ditunda kerjanya gitu. Jadi yang dikerjain itu yang seadanya aja gitu," lanjut dia.
Iin mengaku menyaksikan langsung jumlah pekerja di lokasi proyek berkurang drastis hingga area pembangunan nyaris tanpa aktivitas.
"Waktu awal ramai, sampai malam juga kerja. Lama-lama berkurang, terus sekitar empat bulan sepi. Paling cuma ada pekerjaan kecil seperti gali septic tank," kisahnya.
Akibat gedung yang tak kunjung rampung, kegiatan belajar mengajar siswa SDN Cipete Utara 01 terpaksa dipindahkan ke SD BaPem yang berjarak 1,6 kilometer dari sekolah asal mereka.
"Masuknya siang, jam satu sampai jam empat. Kadang malah jam dua sudah pulang karena cuma dapat satu mata pelajaran. Sekolahnya penuh karena dipakai bergantian," ujar Iin.
Kondisi ini membuat kegiatan belajar mengajar berjalan tidak maksimal. Bahkan, sejumlah bangku sekolah pun ikut dipindahkan ke lokasi sementara.
Meski begitu, dalam beberapa hari terakhir Iin mulai melihat tanda-tanda pembangunan kembali berjalan.
"Ada orang proyek, guru, dan orang dinas. Kayaknya lagi rapat dan mau mulai dikerjakan lagi," ujarnya.
Ia berharap, kelanjutan proyek ini benar-benar mampu mengejar penyelesaian pembangunan agar siswa tidak lagi harus numpang belajar di sekolah lain.
"Kasihan anak-anak," tutup Iin.