- Abdul Latif dan nelayan Maros menggunakan hutan mangrove sebagai tempat berlindung perahu saat musim angin barat.
- Rehabilitasi mangrove seluas 12 hektare berhasil meredam ombak, menahan abrasi, dan meningkatkan usia pakai perahu nelayan.
- Kawasan mangrove menyediakan sumber pendapatan alternatif bagi warga melalui pencarian kepiting bakau dan produksi teh herbal.
Suara.com - Subuh baru saja menyingsing ketika Abdul Latif bergegas keluar rumah. Angin barat yang bertiup kencang membuat atap-atap rumah di Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, bergemuruh.
Di tangannya, sebuah senter menerangi jalan menuju bibir pantai. Yang ia cari bukan ikan atau rajungan, melainkan memastikan perahunya masih berdiri tegak.
Bagi nelayan pesisir seperti Latif, musim angin barat selalu membawa kecemasan. Hembusan angin yang kuat kerap membuat perahu saling berbenturan, rusak, bahkan tenggelam. Dulu, setiap kali cuaca memburuk, para nelayan hanya bisa berharap perahu yang menjadi sumber penghidupan mereka mampu bertahan.
Namun pagi itu, seperti beberapa tahun terakhir, Latif tidak lagi mengandalkan keberuntungan. Ia mengarahkan perahunya masuk ke alur sungai yang dikelilingi hutan mangrove.
Di sanalah, pepohonan bakau menjadi benteng alami yang melindungi perahu-perahu nelayan dari terpaan angin dan ombak.
"Kalau musim barat, kita lari ke sana (hutan mangrove) untuk berlindung. Semua perahu, sekitar 100 unit, dibawa masuk ke sana," kata Latif, Ketua Kelompok Nelayan Kure Bete-betea seperti dikutip dari ANTARA.
Kisah Latif merupakan satu dari banyak cerita tentang bagaimana pemulihan ekosistem mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat yang hidup di garis depan perubahan iklim. Di Kuri Caddi, mangrove bukan hanya menjaga alam, tetapi juga menjaga kehidupan.
Benteng Alami Menghadapi Perubahan Iklim

Belasan tahun lalu, mangrove belum menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kuri Caddi. Saat musim penghujan tiba, angin barat menjadi ancaman tahunan yang tidak dapat dihindari. Perahu-perahu nelayan yang terus dihantam ombak dan angin biasanya hanya mampu bertahan sekitar empat tahun sebelum harus diperbaiki atau bahkan diganti.
Situasi berubah setelah kawasan mangrove direhabilitasi. Kini sekitar 20 jenis mangrove tumbuh di kawasan seluas sekitar 12 hektare. Akar-akar bakau yang rapat mampu meredam ombak, menahan abrasi, sekaligus menciptakan jalur air yang aman sebagai tempat bersandar perahu. Akibatnya, usia pakai perahu meningkat hingga sekitar 10 tahun dan biaya perawatan nelayan pun ikut menurun.
Manfaat tersebut juga dirasakan oleh ekosistem. Kawasan mangrove menjadi habitat alami bagi kepiting bakau, udang, ikan, kerang, hingga berbagai jenis burung yang sempat menghilang. Pemulihan vegetasi ternyata juga memulihkan rantai kehidupan di kawasan pesisir.
Menurut Blue Forest, organisasi yang mendampingi rehabilitasi mangrove di kawasan ini sejak 2013, keberhasilan tersebut tidak hanya berasal dari penanaman pohon. Restorasi dilakukan melalui pendekatan Ecological Mangrove Restoration (EMR), diawali dengan riset kondisi kawasan sebelum mengembalikan fungsi ekologis bekas tambak yang telah terbengkalai. Pendekatan ini dikutip dari wawancara Antara bersama masyarakat dan pendamping program di Kuri Caddi.
Ketika Mangrove Menjadi Sumber Penghasilan Baru

Perubahan tidak berhenti pada perlindungan pesisir. Saat angin barat membuat nelayan tidak bisa melaut selama berhari-hari, kawasan mangrove justru menyediakan sumber penghidupan alternatif. Kepiting bakau dan tiram menjadi hasil alam yang dapat dipanen tanpa harus pergi ke laut lepas.
Latif mengatakan, banyak nelayan memanfaatkan musim tersebut untuk mencari kepiting bakau. Bahkan, sebagian warga memilih beralih menjadi pencari kepiting bakau karena lokasinya lebih dekat, risikonya lebih kecil, dan tetap mampu menopang kebutuhan keluarga.
Manfaat ekonomi juga dirasakan perempuan. Selama tujuh tahun terakhir, Dg. Cora mengembangkan teh herbal "Kalli-kalli" dari daun mangrove jenis Acanthus. Produk itu lahir dari sekolah lapang yang diselenggarakan Blue Forest pada masa pandemi Covid-19, ketika banyak perempuan kehilangan pekerjaan sambilan membuka cangkang kepiting.
Kini, satu karung daun mangrove dapat diolah menjadi teh celup yang dijual Rp15.000 per kotak. Nilainya memang belum besar, tetapi cukup membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
"Kita bersyukur, dari sini saya punya pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Memang belum banyak karena penjualannya belum luas, tetapi sudah sangat membantu," kata Cora.
Koordinator Kemitraan dan Komunikasi Blue Forest, Rahmat HM, mengatakan konservasi tidak akan bertahan jika masyarakat tidak ikut merasakan manfaatnya. Karena itu, rehabilitasi mangrove selalu dibarengi dengan program pemberdayaan ekonomi, mulai dari pelatihan mengolah hasil perikanan menjadi keripik, sambal, hingga teh herbal berbahan mangrove.
Menurutnya, manfaat ekonomi menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga kawasan pesisir.
Kisah Kuri Caddi menunjukkan bahwa pelestarian alam tidak harus dipertentangkan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat. Ketika mangrove mampu melindungi perahu, menghadirkan sumber penghasilan baru, sekaligus memulihkan keanekaragaman hayati, masyarakat memiliki alasan yang lebih kuat untuk ikut menjaganya.
Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, pengalaman Kuri Caddi memperlihatkan bahwa solusi berbasis alam dapat bekerja ketika dibangun bersama masyarakat. Mangrove bukan sekadar deretan pohon di pesisir, melainkan investasi jangka panjang yang menjaga keselamatan, menguatkan ekonomi lokal, dan memastikan kehidupan tetap tumbuh di tepian laut.