-
Jaringan perdagangan bayi lintas negara terungkap menyeret puluhan anak Indonesia yang diadopsi ke Singapura.
-
Pasangan adopsi mempertanyakan kelalaian otoritas Singapura dalam memverifikasi keabsahan dokumen adopsi anak foreign.
-
Para ahli memeringatkan bahaya trauma psikologis jika anak-anak korban perdagangan dipisahkan dari keluarga adopsinya.
"Para [pejabat] adalah ahli dalam hal ini, untuk melihat apakah ini sah. Mereka menangani begitu banyak adopsi setiap hari. Bukan kami," pangkas Ally.
Kementerian Urusan Dalam Negeri serta Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura menyatakan tengah berkoordinasi dengan kepolisian Indonesia untuk membantu proses hukum.
"Kami akan melakukan apa pun yang kami bisa secara hukum untuk mempertahankan anak kami," janji David mengenai keberadaan Marcus.
"Saya tidak akan menyerah padanya. Orang tua mana pun akan berjuang sampai akhir," lanjut David menegaskan komitmennya.
Praktik jual beli bayi di Indonesia didorong oleh faktor kemiskinan ekstrem, minimnya bantuan sosial, serta stigma budaya terhadap kelahiran di luar nikah.
Aktivis hak anak menegaskan perlunya penanganan akar masalah ekonomi agar anak-anak tidak lagi dijadikan komoditas perdagangan oleh jaringan ilegal.
"Ini bukan hanya masalah mencari siapa yang menjual bayi lalu menghukum mereka," jelas Eko Kriswanto, aktivis hak anak asal Jawa Barat.
Masalah utamanya adalah "anak-anak akhirnya diperlakukan sebagai komoditas. Jadi yang harus ditelusuri adalah penyebabnya," tutur Eko.
Kasus hukum ini terungkap setelah seorang ayah di Indonesia melaporkan kehilangan anaknya usai pembayaran janji penyerahan bayi dari perantara tersendat.
Penyelidikan kepolisian kemudian menemukan bukti riwayat percakapan yang mengarah pada jaringan penampungan dan pemalsuan identitas bayi secara terorganisir.
Kini, nasib anak-anak tersebut berada di persimpangan jalan antara kembalinya mereka ke orang tua kandung atau bertahan bersama keluarga adopsi.
Para ahli psikologi mengingatkan bahwa perpindahan pengasuhan secara mendadak berisiko memicu gangguan emosional serta trauma jangka panjang pada perkembangan otak anak.