- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pengembangan ekosistem hidrogen di Jakarta pada Selasa (21/7) bertujuan mendukung swasembada energi nasional.
- Pemerintah bersama Kementerian ESDM menilai percepatan ekosistem hidrogen memerlukan teknologi, kepastian pasar, investasi, dan regulasi yang responsif.
- PLN telah mengoperasikan 24 fasilitas Green Hydrogen Plant di Indonesia untuk memproduksi hidrogen hijau hingga 203,6 ton per tahun.
"PLN siap all out mengekspansi apa yang sudah kami awali di setiap lini, sehingga ekosistem hidrogen nasional dapat terakselerasi. Ini adalah komitmen PLN sebagai pionir ekosistem hidrogen end-to-end di Indonesia,” ujar Darmawan.
Selain bertindak sebagai produsen, PLN turut melengkapi infrastruktur pendukung seperti Hydrogen Refueling Station (HRS) untuk pengisian bahan bakar hidrogen serta mendirikan Hydrogen Center sebagai pusat kompetensi hidrogen pertama di Tanah Air.
PLN juga menjalin kolaborasi strategis, seperti produksi green ammonia bersama Pupuk Kujang untuk kebutuhan co-firing di PLTU Labuan, Banten.
Langkah akselerasi terus diperluas melalui joint study, di antaranya pengembangan Jakarta Hydrogen Mobility bekerja sama dengan Kementerian ESDM, TransJakarta, dan DAMRI, serta rencana produksi green hydrogen di Jambi dan Gresik bersama Pupuk Indonesia dan mitra lainnya.
Darmawan optimis bahwa pendekatan kolaboratif ini akan membuka ruang pertumbuhan ekonomi baru dan menciptakan lapangan kerja hijau bagi masyarakat.
"Bagi PLN, hidrogen bukan sekadar energi bersih, tetapi industri masa depan yang akan memperkuat ketahanan energi, menarik investasi, dan meningkatkan daya saing Indonesia. Karena itu, kami terus mempercepat kolaborasi agar Indonesia menjadi pemain utama dalam ekonomi hidrogen global,” ujanya.