-
AS dan Iran mendekati kesepakatan interim untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.
-
Donald Trump mengancam tindakan militer berat jika Iran memutuskan mundur dari perundingan damai.
-
Kesepakatan diplomasi ini diproyeksikan mampu menurunkan harga bahan bakar minyak di pasar dunia.
"Mereka melakukan negosiasi sepanjang hari ini, dan tampaknya situasinya sangat baik. Dan jika hal itu terjadi—di mana Selat tersebut dibuka... namun jika Selat itu dibuka—dan sebenarnya sebagian sudah terbuka—dan seperti yang Anda tahu, kita menguasai sepenuhnya Selat tersebut melalui blokade; tetapi jika tidak ada gesekan, maka harga minyak akan turun hingga... menurut saya, harganya akan turun menjadi $2,50 per galon," terang Trump.
Pemerintah AS mendesak perusahaan-perusahaan minyak dunia segera menyesuaikan tarif ritel begitu kesepakatan resmi ditandatangani.
Kejelasan status perdamaian dan pembukaan jalur energi vital ini diperkirakan bakal terungkap dalam waktu dekat.
"Kita sedang bergerak dengan sangat baik. Kita akan segera tahu. Kita akan tahu dalam 48 jam," ucap Trump saat bertemu awak media di California.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut mengonfirmasi bahwasanya titik temu teknis perlintasan perairan internasional sedang difinalisasi.
Laporan media Axios menyebut AS, Iran, dan Oman tengah mematangkan draf kesepakatan interim pembukaan Selat dan gencatan senjata.
Ketegangan militer antara Washington dan Tehran memuncak sejak Februari lalu akibat operasi militer gabungan AS dan Israel.
Iran merespons serangan tersebut melalui gempuran peluru kendali dan drone ke pangkalan-pangkalan aset AS di kawasan Teluk.
Meski sempat menyepakati gencatan senjata pada April dan MoU via Pakistan pada Juni, perjanjian perdamaian itu sempat runtuh bulan lalu.
Serangan balasan beruntun selama dua pekan sempat terjadi sebelum Trump menghentikan pemboman untuk memberi ruang bagi perundingan baru.