Makan Kenyang Saja Tak Cukup, Indonesia Masih Hadapi Triple Burden of Malnutrition

Vania Rossa

Rabu, 05 Agustus 2026 | 15:15 WIB
Makan Kenyang Saja Tak Cukup, Indonesia Masih Hadapi Triple Burden of Malnutrition
Andrew F. Saputro, Corporate Affairs Director for Frisian Flags Indonesia. (Suara.com/tangkap layar)
baca 10 detik
  • Pemerintah berhasil menurunkan prevalensi stunting Indonesia dari lebih 30 persen menjadi di bawah 20 persen.
  • Indonesia masih menghadapi tantangan triple burden of malnutrition yang meliputi kekurangan gizi, anemia, dan obesitas.
  • Andrew F. Saputro menyatakan kualitas gizi sejak usia dini sangat menentukan daya saing sumber daya manusia.

Suara.com - Pemerintah dinilai berhasil menurunkan prevalensi stunting dalam satu dekade terakhir. Namun, persoalan gizi di Indonesia belum sepenuhnya selesai. Di balik penurunan angka stunting, Indonesia masih menghadapi tantangan yang lebih kompleks berupa triple burden of malnutrition, yaitu beban gizi rangkap yang mencakup kekurangan gizi, kekurangan zat gizi mikro, dan obesitas.

Corporate Affairs Director Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya memperbaiki gizi masyarakat tidak cukup hanya memastikan anak mendapat makanan yang cukup, tetapi juga harus memperhatikan kualitas asupan yang dikonsumsi.

"Masalah gizi itu bukan sekadar bagaimana kita menuntaskan dengan makan yang cukup. Bukan cuma dikasih makan, tetapi makan yang seperti apa, minuman yang seperti apa. Harus aman, berkualitas, dan tentu saja terjangkau," ujar Andrew dalam podcast Tiga Dara bersama Suara.com beberapa waktu lalu.

Menurutnya, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting Indonesia telah turun dari kisaran lebih dari 30 persen menjadi di bawah 20 persen.

Artinya, jika sebelumnya satu dari tiga anak mengalami stunting, kini angkanya mendekati satu dari lima anak.

Andrew menyebut capaian tersebut patut diapresiasi. Bahkan, berdasarkan data yang diterimanya dari Kementerian Kesehatan, posisi Indonesia kini dinilai lebih baik dibanding beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Meski demikian, dengan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar, satu dari lima anak tetap berarti jutaan anak masih menghadapi masalah gizi.

"Skala Indonesia sangat besar. Jadi satu dari lima anak tetap jumlahnya masih sangat banyak," katanya.

Triple Burden Masih Mengintai

baca juga

Andrew menjelaskan, hasil Southeast Asian Nutrition Survey (SEANUTS) yang dilakukan FrieslandCampina juga menemukan pola yang sejalan dengan data pemerintah.

Selain stunting, Indonesia menghadapi persoalan hidden hunger atau kelaparan tersembunyi akibat kekurangan mikronutrien.

Masalah yang paling banyak ditemukan adalah anemia akibat kekurangan zat besi.

"Yang paling banyak di Indonesia itu anemia. Ini jangan dianggap sepele karena nanti ketika anak tumbuh menjadi remaja, khususnya perempuan, kemudian hamil dalam kondisi anemia, risikonya akan berpengaruh terhadap kualitas kehamilan dan tumbuh kembang anak," jelasnya.

Selain anemia, Indonesia juga mulai menghadapi peningkatan obesitas, terutama di wilayah perkotaan.

Menurut Andrew, distribusi ketiga masalah tersebut berbeda-beda.

Kasus stunting lebih banyak ditemukan pada masyarakat dengan kondisi ekonomi rendah di wilayah pedesaan, sementara obesitas lebih banyak terjadi di kawasan urban.

Yang menarik, kata dia, defisiensi vitamin D justru ditemukan hampir merata di berbagai wilayah.

"Hampir rata. Artinya ada persoalan kurang terpapar sinar matahari. Ini menarik karena Indonesia negara tropis, tetapi kekurangan vitamin D masih cukup tinggi," ujarnya.

Gizi Berkaitan dengan Daya Saing Bangsa

Andrew menegaskan bahwa persoalan gizi tidak boleh hanya dipandang sebagai isu kesehatan.

Menurutnya, kualitas gizi sejak usia dini akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia pada masa depan.

"Kalau kita bicara gizi, ujungnya bukan hanya kesehatan. Ini tentang kualitas sumber daya manusia, produktivitas, dan daya saing negara," katanya.

Ia menilai penyelesaian masalah gizi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, industri pangan hingga peternak sebagai bagian dari ekosistem pangan nasional.

Salah satu sumber pangan yang dinilai memiliki kepadatan gizi tinggi adalah susu.

Namun, Andrew menekankan bahwa susu bukan satu-satunya solusi, melainkan salah satu pilihan praktis untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi harian.

"Susu merupakan salah satu pangan yang padat gizi dengan kualitas protein yang sangat baik. Tetapi tentu ini bukan satu-satunya solusi. Yang paling penting adalah masyarakat mendapatkan pola makan bergizi seimbang," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

BGN Sebut 116 Juta Warga Indonesia Masih Kurang Makan, Daerah Stunting Tinggi Jadi Prioritas MBG

BGN Sebut 116 Juta Warga Indonesia Masih Kurang Makan, Daerah Stunting Tinggi Jadi Prioritas MBG

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 16:45 WIB

BNI Perkuat Program Pencegahan Stunting pada Hari Anak Nasional

BNI Perkuat Program Pencegahan Stunting pada Hari Anak Nasional

Bisnis | Kamis, 23 Juli 2026 | 10:06 WIB

BRI Dukung BKKBN Salurkan Bantuan Keluarga Berisiko Stunting di Kepulauan Talaud

BRI Dukung BKKBN Salurkan Bantuan Keluarga Berisiko Stunting di Kepulauan Talaud

Bri | Rabu, 22 Juli 2026 | 21:17 WIB

Terkini

Jateng Tembus 3 Besar Era Luthfi, Dubai Siapkan Rp5 T untuk Kilang Jepara, GSI: Ramah Investasi

Jateng Tembus 3 Besar Era Luthfi, Dubai Siapkan Rp5 T untuk Kilang Jepara, GSI: Ramah Investasi

Jawa Tengah | Sabtu, 19 September 2026 | 22:38 WIB

Penipu Catut Nama Orderkuota, Sebar CS Palsu Lewat Google

Penipu Catut Nama Orderkuota, Sebar CS Palsu Lewat Google

Bisnis | Sabtu, 19 September 2026 | 22:38 WIB

Kronologis WNI Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Negatif Narkoba, Tidak Punya Riwayat Kejahatan

Kronologis WNI Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Negatif Narkoba, Tidak Punya Riwayat Kejahatan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:35 WIB

Buntut Presidential Threshold Dihapus, Surya Paloh Cium Wacana Syarat Capres Minimal Dukungan 2 Frak

Buntut Presidential Threshold Dihapus, Surya Paloh Cium Wacana Syarat Capres Minimal Dukungan 2 Frak

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:29 WIB

RUU Perampasan Aset Didesak Publik, Surya Paloh Ingatkan Jangan Dipaksakan

RUU Perampasan Aset Didesak Publik, Surya Paloh Ingatkan Jangan Dipaksakan

News | Sabtu, 19 September 2026 | 22:15 WIB

Harga Cabai Naik, Kemarau Panjang dan Jeda Panen Jadi Biang Kerok

Harga Cabai Naik, Kemarau Panjang dan Jeda Panen Jadi Biang Kerok

Bisnis | Sabtu, 19 September 2026 | 22:05 WIB

Surya Paloh Buka-bukaan Soal Parliamentary Threshold 7 Persen: NasDem Rela Tersingkir dari Parlemen

Surya Paloh Buka-bukaan Soal Parliamentary Threshold 7 Persen: NasDem Rela Tersingkir dari Parlemen

News | Sabtu, 19 September 2026 | 21:34 WIB

Grace Natalie Soroti Perdebatan Kunjungan Jokowi ke Palue: Fokus pada Pemulihan Warga

Grace Natalie Soroti Perdebatan Kunjungan Jokowi ke Palue: Fokus pada Pemulihan Warga

Jakarta | Sabtu, 19 September 2026 | 21:32 WIB

Nusron Wahid Mundur dari Pengurus Golkar, Sudah Pamit ke Bahlil 6 Bulan Lalu

Nusron Wahid Mundur dari Pengurus Golkar, Sudah Pamit ke Bahlil 6 Bulan Lalu

News | Sabtu, 19 September 2026 | 21:18 WIB

Bertemu Presiden UMNO, Surya Paloh: Hubungan Indonesia-Malaysia Tak Boleh Sekadar Hitung Untung Rugi

Bertemu Presiden UMNO, Surya Paloh: Hubungan Indonesia-Malaysia Tak Boleh Sekadar Hitung Untung Rugi

News | Sabtu, 19 September 2026 | 21:05 WIB

×