-
Iran memanfaatkan jeda gencatan senjata untuk melipatgandakan produksi rudal dan drone tempur.
-
Stok amunisi Iran diperkirakan masih tersisa mayoritas untuk menghadapi perang jangka panjang.
-
Eskalasi militer di Selat Hormuz terus mengancam keamanan jalur pelayaran kapal komersial dunia.
“Kemampuan rudal kami telah didistribusikan di negara yang luas ini. Komponen rudal diproduksi di tempat-tempat yang bahkan tidak dapat mereka bayangkan,” kata mantan komandan IRGC tersebut.
Aksi pendudukan pulau-pulau strategis di wilayah selatan diprediksi bakal menelan biaya operasional yang sangat mahal bagi Amerika Serikat. Iran menegaskan bahwa pengerahan kekuatan militer tidak akan pernah bisa membuka kembali akses lalu lintas Selat Hormuz secara paksa.
“Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali melalui serangan militer,” katanya.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memuncak sejak eskalasi militer terbuka meletus pada 28 Februari. Konflik ini memicu pertempuran sengit yang melibatkan kekuatan udara dan laut di sepanjang kawasan strategis Selat Hormuz.
Upaya diplomasi sempat diusahakan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada bulan Juni dengan fasilitasi mediator regional seperti Oman. Namun, penangguhan MoU tersebut membuat situasi kembali memanas dan memicu kedua belah pihak meningkatkan kesiapsiagaan tempur.