- MapBiomas Fire mencatat 25.053 hektare lahan pasca-deforestasi di Indonesia terbakar sepanjang Januari hingga Juni 2026.
- Kalimantan Barat dan Riau menjadi dua provinsi dengan area terbakar terbesar pada kategori lahan pasca-deforestasi tersebut.
- Nusa Tenggara Timur tercatat sebagai provinsi dengan total area terbakar terbesar secara keseluruhan pada semester pertama 2026.
Suara.com - Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi provinsi dengan area terbakar paling luas di Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026, menurut analisis MapBiomas Fire.
Luas area terbakar di provinsi tersebut mencapai 26.591 hektare, sedikit lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Barat yang mencapai 25.629 hektare.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada semester pertama 2026 tidak hanya terkonsentrasi di Sumatera dan Kalimantan, yang selama ini lebih sering menjadi sorotan dalam penanganan kebakaran.
Secara keseluruhan, MapBiomas Fire mencatat 178.232 hektare area terbakar di Indonesia sepanjang Januari-Juni 2026.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan catatan Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) milik Kementerian Kehutanan yang mencatat 107.465,47 hektare pada periode yang sama.
Perbedaan tersebut terutama berkaitan dengan metode pemantauan. MapBiomas Fire menggunakan citra satelit Sentinel-2 dan model deep learning untuk mengidentifikasi area terbakar pada berbagai jenis tutupan lahan.
NTT Lampaui Kalimantan Barat
Dari total area terbakar yang dipetakan MapBiomas Fire, NTT menyumbang sekitar 26.591 hektare.
Kalimantan Barat berada di urutan kedua dengan 25.629 hektare, sementara sejumlah wilayah lain di Sumatera dan Kalimantan juga mencatat area terbakar cukup besar.
Jika digabungkan, wilayah Bali dan Nusa Tenggara menyumbang 33.338 hektare atau sekitar 18,7 persen dari seluruh area terbakar nasional.
Kontribusi tersebut bahkan mendekati Kalimantan yang menyumbang sekitar 21,13 persen.
Data ini memperlihatkan bahwa perhatian terhadap karhutla perlu melihat wilayah yang lebih luas. Karakteristik NTT yang memiliki banyak savana dan tutupan vegetasi non-hutan juga membuat pemantauan kebakaran membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada kawasan hutan.
MapBiomas Fire menggunakan klasifikasi berbasis citra satelit untuk mendeteksi area terbakar pada berbagai kelas tutupan lahan, termasuk savana, semak, dan lahan pertanian non-sawah.
Bukan Sekadar Persoalan Luas Kebakaran
Kebakaran yang terjadi pada semester pertama 2026 juga menyentuh sejumlah kawasan dengan fungsi ekologis penting.