-
Iran dan Oman menyepakati rute pelayaran transit sementara selebar 11,3 kilometer di Selat Hormuz.
-
Iran menegaskan Selat Hormuz tak dibuka penuh sebelum AS mencabut sanksi dan mencairkan asetnya.
-
Penutupan Selat Hormuz sejak Februari merusak pasokan seperlima komoditas minyak dan gas global.
Suara.com - Iran dan Oman mencapai kesepakatan teknis untuk mengaktifkan koridor pelayaran transit sementara di Selat Hormuz demi mencairkan kebuntuan lalu lintas energi global. Langkah diplomatik dua negara pesisir ini membuka ruang navigasi terbatas setelah jalur perdagangan strategis dunia tersebut lumpuh total akibat konflik persenjataan.
Pemerintah Iran menetapkan bahwa koridor darurat ini akan melintasi sebagian wilayah laut teritorial mereka di bawah pengawasan ketat. Kebijakan bersama Maskat dan Teheran tersebut menawarkan skema pengaturan lalu lintas kapal yang berbeda dibanding koridor laut bentukan asosiasi internasional sebelumnya.
Kesepakatan bilateral ini menandai pergeseran penguasaan navigasi Teluk ke tangan negara-negara pesisir lokal. Meski perlintasan baru mulai dirancang, pihak Teheran menegaskan akses penuh Selat Hormuz belum akan dibuka sampai Amerika Serikat merealisasikan janji kompensasi politiknya.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Bidang Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, memaparkan rincian teknis perlintasan kapal tersebut lewat siaran televisi pemerintah. Ia menyatakan bahwa jalur masuk dan sebagian akses keluar kapal dirancang khusus menembus wilayah perairan kedaulatan Iran.
Kazem Gharibabadi menjelaskan lebar koridor transit perairan darurat tersebut mencapai tujuh mil atau sekitar 11,3 kilometer.
"Rute transit yang disepakati dengan Oman merupakan rute sementara," tegas Gharibabadi dalam pernyataan resminya.
Sebelum pengumuman terbuka ini rilis, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah menggelar perundingan intensif bersama Menlu Oman Badr Albusaidi di Teheran. Pertemuan tingkat tinggi tersebut mematangkan koridor navigasi transisi sekaligus mengagendakan proyek pembersihan ranjau laut di kawasan selat.
Badr Albusaidi menyampaikan optimismenya melalui platform X agar kedua pihak bisa segera mengumumkan koridor tersebut kepada publik dunia. Ia menambahkan bahwa pengelolaan selat di masa depan dan solusi permanen akan menyusul pada waktunya.
Tim teknis dari Iran dan Oman dijadwalkan segera menggelar negosiasi lanjutan guna menyusun regulasi jangka panjang. Pembahasan itu mencakup mekanisme pertukaran data pelayaran, jaminan keamanan laut, hingga penyediaan layanan navigasi terpadu.
Kawasan Selat Hormuz memanas pasca aksi penutupan sepihak oleh Teheran sebagai balasan atas agresi militer AS dan Israel pada Februari lalu. Iran kemudian mengalihkan arus kapal ke perairan teritorialnya dan memotong skema pemisahan lalu lintas internasional buatan IMO tahun 1968.
Kondisi perairan makin membahayakan lantaran Teheran memasang ranjau di sekitar jalur laut lama. Upaya AS, Oman, dan IMO menyusun koridor alternatif di pesisir Oman pada Juni lalu runtuh seketika setelah serangan armada Iran menargetkan kapal-kapal pemanfaat rute selatan tersebut.
Diplomasi perdamaian skala luas kini menemui jalan buntu dan membuat pelayaran komersial tetap berada dalam bahaya tinggi. Insiden terbaru mencatat satu kapal tanker minyak lumpuh di dekat Ash Shishah akibat hantaman proyektil misterius.
Gharibabadi menegaskan kembali bahwa terciptanya rute sementara ini tidak otomatis memulihkan status operasional penuh Selat Hormuz. Pihaknya membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut ranjau laut di perairan internasional telah bersih total.
Pernyataan Washington dinilai Gharibabadi hanya bertujuan untuk menenangkan pasar keuangan global semata. Ia melontarkan peringatan keras bahwa kapal penyapu ranjau milik militer AS akan menjadi "target yang sangat bagus" jika nekat beroperasi di area tersebut.
Teheran menuntut AS menjalankan seluruh kewajiban dalam kesepakatan Juni, mencakup pencabutan sanksi ekonomi serta pencairan aset dana Iran yang dibekukan. Tanpa pemenuhan syarat itu, Iran menolak membuka penuh jalur perdagangan yang mengangkut seperlima pasokan minyak dunia tersebut.