-
Iran dan Oman menyepakati rute pelayaran transit sementara selebar 11,3 kilometer di Selat Hormuz.
-
Iran menegaskan Selat Hormuz tak dibuka penuh sebelum AS mencabut sanksi dan mencairkan asetnya.
-
Penutupan Selat Hormuz sejak Februari merusak pasokan seperlima komoditas minyak dan gas global.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump justru meluncurkan paket sanksi ekonomi baru dan mengancam bakal menghukum negara mana pun yang berbisnis dengan Iran. Menanggapi gertakan tersebut, Teheran meminta komunitas internasional tidak menyerah pada intimidasi ekonomi Washington.
"Kami mendesak negara-negara untuk tidak tunduk pada tekanan Amerika terkait sanksi yang ingin dijatuhkan Washington kepada kami," tutur Gharibabadi.
Ketegangan di Selat Hormuz berakar dari meletusnya perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada Februari. Konflik persenjataan tersebut seketika menghentikan lalu lintas pelayaran yang saban hari menyalurkan 20 persen komoditas minyak dan gas alam cair dunia.
Meskipun nota kesepahaman sempat ditandatangani pada Juni untuk mengakhiri perselisihan, perundingan lanjutan berjalan alot akibat sanksi baru dari Washington.
"Sanksi baru Amerika pasti gagal, dan kami memiliki metode sendiri untuk melawannya," pungkas Gharibabadi mengakhiri penjelasannya.