-
Runtuhan gletser skala besar di perbatasan Tibet-Nepal menewaskan ratusan orang dan melenyapkan ribuan warga.
-
Gelombang lumpur pekat menerjang cepat tanpa didahului hujan sehingga melumpuhkan sistem peringatan dini banjir.
-
Para ahli menyebut peningkatan suhu global memicu pemicuan penyusutan gletser Himalaya yang kian masif.
Suara.com - Runtuhan gletser raksasa di kawasan perbatasan Tibet dan Nepal memicu banjir bandang lumpur yang menewaskan lebih dari 270 orang. Petaka mendadak tanpa curah hujan ini menimbun banyak wilayah permukiman serta memutus akses transportasi utama.
Banjir material es dan tanah tersebut merusak infrastruktur vital serta menyebabkan lebih dari 1.500 warga dan wisatawan asing hilang. Para petugas penyelamat memprediksi jumlah korban tewas akan terus meningkat seiring sulitnya jangkauan ke lokasi terisolasi.
Awalnya bencana ini dikira dampak gempa bumi, namun pengamatan citra satelit mengonfirmasi bahwa runtuhan massal es gletser yang memicu getaran seismik. Peristiwa langka di ketinggian 5.200 meter tersebut meluncurkan jutaan meter kubik material batu dan es langsung ke lembah Sungai Lhende.

Bagaimana Runtuhan Es Ini Menghancurkan Permukiman Warga?
Limpasan air bercampur lumpur tebal mengalir cepat dari Sungai Lhende menuju Sungai Bhote Koshi hingga menerjang wilayah Trishuli di Nepal. Ketinggian permukaan air sungai dilaporkan melonjak secara mendadak hingga 9 meter hanya dalam kurun waktu 30 menit.
Sapuan arus kencang menenggelamkan rumah, hanyutkan kendaraan, dan merobohkan jembatan besi di Distrik Rasuwa. Banyak warga desa tidak sempat menyelamatkan diri karena luapan lumpur datang menyerupai gelombang beton cair yang sangat pekat.
Salah satu korban selamat, Keshav Prasad Baral (68 tahun), menceritakan kepanikan saat gelombang material gletser menerjang kediamannya secara tiba-tiba.
"Itu adalah semburan lumpur besar yang datang lurus ke arah kami," kata Keshav Prasad Baral.

Ia sempat berusaha menyelamatkan sang istri ke bagian teratas bangunan sebelum hempasan material lumpur memisahkan mereka.
"Saat makin dekat, tingginya terus naik. Ketika saya melihatnya masuk ke rumah kami, saya mencoba memegang tangan istri saya dan membawanya ke teras. Tapi dia tersapu oleh lumpur," tuturnya.
Keshav berhasil dievakuasi menggunakan helikopter setelah empat jam bertahan di tengah kepungan material bencana.
"Istri saya masih ada di suatu tempat di bawah lumpur," tambah Keshav Prasad Baral. "Dia sudah pergi."
Apakah Pemanasan Global Menjadi Pemicu Utama Bencana Ini?
Peneliti geologi mengonfirmasi bagian moncong gletser runtuh dan membawa bongkahan batuan serta sedimen besar ke aliran sungai. Pencairan salju berskala masif dalam kurun waktu singkat diduga kuat melonggarkan ikatan massa es hingga meluncur bebas ke dasar lembah.
Para ahli menegaskan bahwa tren pemanasan global di kawasan Pegunungan Himalaya kian meningkatkan risiko bencana alam ekstrem. Laju penyusutan es gletser di wilayah pegunungan tersebut melaju 65 persen lebih cepat sepanjang dekade terakhir.
Ancaman banjir bandang akibat runtuhan gletser makin berbahaya karena datang tiba-tiba tanpa ditandai oleh gumpalan awan maupun curah hujan. Kondisi tanpa peringatan dini ini membuat sistem deteksi banjir konvensional gagal mengantisipasi datangnya material pekat dari hulu.
Seberapa Sering Peristiwa Runtuhan Gletser Terjadi di Dunia?
Fenomena runtuhnya massa gletser merupakan kategori bencana alami yang sangat langka namun destruktif di wilayah dataran tinggi. Wilayah Tibet tercatat beberapa kali mengalami insiden serupa, seperti runtuhnya es di Aru Range pada tahun 2016 dan Sedongpu Basin.
Kejadian serupa juga pernah melanda wilayah Pegunungan Kunlun pada 2022 serta Pegunungan Alpen di Swiss pada tahun lalu. Sebagian besar kasus menunjukkan pemicu utama runtuhan bersifat sangat spesifik tergantung kondisi geologi dan luapan air di lokasi kejadian.
Peristiwa di perbatasan Tibet dan Nepal ini berakar dari guncangan massal runtuhan es yang disalahartikan sebagai aktivitas tektonik gempa bumi. Kawasan Himalaya kini menghadapi ancaman ganda akibat naiknya suhu global yang mempercepat pencairan abadi es di wilayah puncak.