-
Banjir bandang akibat runtuhnya gletser Himalaya di perbatasan Nepal menewaskan sedikitnya 162 orang.
-
Ratusan korban termasuk puluhan wisatawan asing dan 28 polisi masih dinyatakan hilang.
-
Kerusakan 19 jembatan memicu penetapan status krisis bencana selama tiga bulan di Nepal.
Suara.com - Pecahan gletser raksasa dari pegunungan Himalaya meluncur deras menumpahkan es dan bebatuan ke Sungai Bhotekoshi. Banjir bandang berkecepatan tinggi ini meratakan kawasan perbatasan Nepal dan China hingga merenggut sedikitnya 162 nyawa.
Hasil pantauan citra satelit memperlihatkan titik awal runtuhnya material es tersebut berada sekitar 20 kilometer di timur laut Rasuwa-Rasuwagadhi. Benturan keras jutaan ton batu dan es memicu luapan banjir bandang yang menghancurkan jalur pendakian serta pemukiman warga.
Distrik Chitwan menjadi wilayah yang terpukul paling parah dengan temuan 64 korban meninggal dunia. Sementara itu, wilayah tetangga seperti Dhading melaporkan 27 korban jiwa dan Nawalparasi Timur mencatat 22 korban tewas.

Operasi penyelamatan kini berkejaran dengan waktu untuk menemukan ratusan korban yang masih dinyatakan hilang di kawasan terdampak. Deretan warga negara asing mendominasi daftar pencarian, termasuk lebih dari 100 turis India, 54 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, dan 33 warga Inggris.
Daftar korban hilang tersebut juga mencakup 28 personel Polisi Nepal yang sedang bertugas saat bencana menerjang. Hingga saat ini, helikopter militer bersama operator swasta berhasil menyelamatkan setidaknya 114 warga dari zona bahaya.
Lumpuhnya infrastruktur transportasi menjadi rintangan terbesar karena banjir menghancurkan 19 jembatan utama dan memutus jalan sepanjang 40 kilometer. Kondisi jalur darat yang hancur total memaksa tim SAR mengandalkan armada pesawat nirawak dan helikopter untuk menyisir lokasi penyeberangan.
Otoritas Pengurangan Risiko Bencana menginstruksikan penyintas yang terjebak untuk menyalakan api agar kepulan asapnya menjadi penanda lokasi bagi armada penyelamat udara. Pemerintah menetapkan status wilayah krisis bencana selama tiga bulan untuk tiga distrik terdampak paling parah, yakni Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading.
Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan banjir tersebut menyebabkan kerusakan parah di sejumlah distrik.
Ia juga mengingatkan warga bahwa data casualties yang ada saat ini masih berkembang.
"Informasi yang tersedia sejauh ini masih bersifat sementara," ujar Shisir Khanal.
Pemerintah Nepal langsung mengeluarkan imbauan bahaya lanjutan untuk warga yang bermukim di sepanjang bantaran Sungai Bhotekoshi dan Trishuli. Kewaspadaan ekstra diterapkan di distrik Nuwakot, Dhading, Gorkha, dan Chitwan mengingat potensi banjir susulan masih sangat tinggi.
Kementerian Keuangan Nepal mengonfirmasi bahwa India, China, dan Bank Dunia bergerak cepat untuk mengoordinasikan bantuan keuangan bagi operasi pencarian, bantuan kemanusiaan, dan rekonstruksi wilayah yang terdampak banjir.
Sinergi internasional ini difokuskan untuk mempercepat pemulihan fasilitas publik dan penyaluran logistik darurat. Sebagai informasi latar belakang, wilayah utara Nepal yang berbatasan langsung dengan Tibet (China) merupakan kawasan lintasan gletser aktif yang rentan mengalami fenomena Glacial Lake Outburst Flood (GLOF) saat perubahan suhu ekstrem terjadi.
Kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan di sepanjang rute perdagangan Rasuwa-Rasuwagadhi ini berulang kali memutus akses ekonomi vital antar kedua negara saat musim bencana tiba.