- Badan Riset dan Inovasi Nasional mengkaji penggunaan tepung singkong sebagai bahan alternatif pemadam kebakaran hutan dan lahan.
- Inovasi metode ubi bombing tersebut berawal dari penemuan anggota TNI di Lubuk Linggau, Sumatra Selatan.
- Presiden Prabowo Subianto meminta inovasi pemadam berbahan ubi itu segera dikembangkan dan diuji coba dalam skala besar.
Suara.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah melakukan kajian terkait penggunaan tepung singkong sebagai bahan baku alternatif untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Inovasi tersebut sebelumnya disebut Presiden Prabowo Subianto sebagai metode “ubi bombing”, yang diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam penanganan karhutla.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, berdasarkan kajian yang dilakukan, penggunaan tepung singkong sebagai material untuk memadamkan api memungkinkan secara teoritik.
“Ya, BRIN sudah mengkaji. Artinya secara teoritik itu memang sangat memungkinkan,” kata Arif di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Arif mengatakan BRIN saat ini juga berkoordinasi dengan Polri untuk mempersiapkan penggunaan tepung singkong sebagai salah satu bahan dalam penanganan karhutla.
“Nah sekarang persiapan seperti apa ini kami juga sedang terus kami tunggu update-nya, mudah-mudahan dalam waktu dekat ini sudah ada hasilnya ya,” ujarnya.
Berawal dari Inovasi Anggota TNI
Sebelumnya, Presiden Prabowo meminta jajaran pemerintah mencari berbagai inovasi dalam penanganan karhutla, termasuk mengembangkan bahan pemadam alternatif.
Hal itu disampaikan Prabowo saat memimpin rapat penanganan karhutla di Posko Utama Satuan Tugas Karhutla Provinsi Sumatra Selatan, Palembang, Senin (24/8/2026).
Prabowo meminta BNPB dan BRIN mengkaji kemungkinan penggunaan bahan kimia atau material tertentu yang dapat digunakan untuk memadamkan maupun mencegah penyebaran api secara lebih efektif.
Menurut Prabowo, bahan alternatif tersebut nantinya dapat digunakan tim pemadam di lapangan dalam bentuk tabung semprot maupun metode lain yang lebih praktis.
“Seperti alat pemadam kebakaran, ya yang kita bayangkan, itu kan yang keluar kan zat kimia. Benar nggak? Ya, coba dicek ya. Mungkin BRIN, coba dicek BRIN ya. BRIN apakah bisa produksi atau kita sourcing. Kan dijual untuk alat-alat ya, isinya. Kita mau isinya, cari sourcing dari mana sehingga mungkin lebih efektif untuk tim-tim yang terjun, dia sudah bawa tabung-tabung itu. Mungkin lebih cepat,” kata Prabowo.
Dalam rapat tersebut, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan adanya inovasi bahan pemadam berbahan baku tepung ubi atau singkong. Inovasi tersebut sebelumnya ditemukan oleh anggota TNI di Lubuk Linggau.
Bahan tersebut dinilai memiliki potensi untuk membantu mencegah penyebaran api dengan memisahkan unsur-unsur yang mendukung proses pembakaran. Material tersebut juga disebut dapat digunakan untuk memadamkan api pada tahap awal.
Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis turut melaporkan bahwa inovasi tersebut telah dipaparkan kepada jajaran terkait dan disampaikan kepada BNPB.
Meski kapasitas produksinya masih terbatas, bahan tersebut dinilai efektif dan berpotensi dikembangkan dalam skala lebih besar.
Menanggapi laporan itu, Prabowo meminta inovasi berbahan baku ubi atau singkong segera dikembangkan dan diuji coba dalam skala lebih besar. Ia juga meminta kebutuhan anggaran produksi segera diajukan untuk mendukung proses riset, produksi, dan pengujian efektivitasnya.
“Menarik sekali. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar. Ajukan biaya untuk produksinya. Kita usahakan semua upaya. Berarti yang kita waterbomb bukan waterbomb, ubi bombing. Ubi bombing,” kata Prabowo, dilansir dari keterangan resmi Sekretariat Presiden.
Penanganan Karhutla Terus Dievaluasi
Selain pengembangan bahan alternatif, Prabowo meminta Panglima TNI menguji coba kemampuan Tim Alpha untuk mendukung penanganan karhutla di Sumatra Selatan.
Berbagai metode penanganan akan terus dievaluasi agar proses pemadaman dapat dilakukan secara cepat, efektif, dan menyeluruh.
Prabowo juga menegaskan seluruh sumber daya, teknologi, dan inovasi yang tersedia harus dimanfaatkan secara optimal dalam menangani karhutla.
Dalam rapat tersebut, Prabowo meminta sisa lahan terbakar seluas sekitar 1.900 hektare di Sumatra Selatan segera dipadamkan.
“Kalau begitu saya tekankan, usahakan yang sekarang ini 1.900 hektare ini bisa segera dipadamkan. Apa saja nanti kendala yang kalian hadapi di lapangan, Anda evaluasi dan kalau perlu tambahan bantuan dari atas, ya kita akan usahakan segera mungkin,” ujar Prabowo.