-
Perang AS dan Iran selama enam bulan mengalami jalan buntu dengan biaya militer menembus 100 miliar dolar AS.
-
Penutupan Selat Hormuz memicu krisis energi global yang berdampak berat pada ekonomi negara-negara Asia.
-
Elektabilitas Donald Trump merosot tajam ke angka 33 persen akibat kekhawatiran konflik berkepanjangan.
Suara.com - Perang AS-Iran memasuki bulan keenam tanpa tanda-tanda kemenangan mutlak, sementara pembengkakan biaya perang dan krisis energi global terus menekan posisi Washington.
Kondisi jalan buntu ini memaksa militer Amerika Serikat menanggung beban operasional yang kian berat akibat penyiapan pasokan amunisi yang menipis di kawasan Timur Tengah.
Strategi serangan cepat yang digagas Washington kini berbalik menjadi konflik berkepanjangan yang mengguncang stabilitas politik domestik AS menjelang pemilu sela.
Eskalasi terbaru kembali pecah setelah militer AS menggempur peluncur roket di Pulau Larak, yang langsung dibalas Tehran dengan menggempur dua pangkalan AS di Yordania.
Rangkaian serangan udara sejak akhir Februari lalu sejatinya berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, namun tak sanggup melumpuhkan total kekuatan militer Tehran.
![Ilustrasi Perang AS-Iran dikabarkan damai [Suara.com/HD]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/04/19929-ilustrasi-perang-as-iran.jpg)
Mengapa Perang Militer AS di Iran Berubah Menjadi Bencana Finansial?
Estimasi biaya konflik yang diperkirakan melampaui 100 miliar dolar AS kini menguras anggaran Pentagon secara signifikan.
Penyiapan armada laut dan amunisi secara konstan di kawasan tersebut kian sulit dipertahankan dalam jangka panjang oleh angkatan laut AS.
Paul Fraioli, peneliti senior dari International Institute for Strategic Studies, menegaskan beratnya operasional tersebut.
"Menjaga kehadiran militer dan tempo yang diperlukan untuk memberikan dampak strategis terhadap Iran adalah hal yang sulit dilakukan oleh Angkatan Laut (AS) secara terus-menerus," kata Fraioli.
Klaim kemenangan yang sempat digaungkan Presiden Donald Trump pada April lalu bahwa militer Iran telah "hancur total" kini menghadapi keraguan besar seiring masih tangguhnya kapasitas tempur Iran.
![Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait kehadiran militernya di sekitar Selat Hormuz. [Istimewa]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/04/31622-ilustrasi-perang-as-iran.jpg)
Bagaimana Krisis Selat Hormuz Mengancam Pasokan Energi Asia?
Penutupan efektif Selat Hormuz memicu gangguan distribusi minyak mentah dunia yang berdampak langsung pada lonjakan harga bahan bakar.
Kondisi ini menghantam keras negara-negara Asia dan Eropa yang sangat bergantung pada impor minyak serta gas dari kawasan Timur Tengah.
Petras Katinas, peneliti dari Royal United Services Institute, menyoroti potensi pergeseran pola konsumsi energi global tersebut.