-
Perang AS dan Iran selama enam bulan mengalami jalan buntu dengan biaya militer menembus 100 miliar dolar AS.
-
Penutupan Selat Hormuz memicu krisis energi global yang berdampak berat pada ekonomi negara-negara Asia.
-
Elektabilitas Donald Trump merosot tajam ke angka 33 persen akibat kekhawatiran konflik berkepanjangan.
"Kita mungkin akan melihat kehancuran permintaan. Itu berarti negara-negara anggota di Asia, di Eropa, mereka mungkin berkata, 'karena kita tidak aman dalam hal kepastian pasokan, kita mungkin mencoba mencari beberapa sumber energi alternatif'," ujar Katinas.
Ancaman kelangkaan ini memaksa para importir utama untuk merombak total strategi ketahanan energi nasional mereka.
Apakah Konflik Iran Bakal Meruntuhkan Elektabilitas Donald Trump?
Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Donald Trump merosot ke titik terendah dengan angka persetujuan warga hanya menyentuh 33 persen.
Sebanyak 64 persen responden menyatakan ketidakpuasan atas kepemimpinan Trump akibat kekhawatiran perang akan berlarut-larut tanpa kepastian.
Dampak politik ini menjadi ancaman serius bagi Partai Republik yang sedang berjuang mempertahankan kendali di DPR pada pemilu sela mendatang.
Fraioli menambahkan bahwa isu Iran akan terus membayangi pemerintahan AS meskipun kesepakatan gencatan senjata berhasil dicapai.
"...terus memberikan berita buruk bagi pemerintahan Trump," tutur Fraioli.
Bisakah Tekanan Sanksi Ekonomi AS Menundukkan Posisi Tehran?
Kegagalan opsi militer mendorong Washington mengalihkan fokus pada pengetatan isolasi ekonomi terhadap negara-negara yang berbisnis dengan Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan langkah tegas yang diambil pemerintahannya untuk mencekik keuangan Tehran.
"Kami akan meminta pertanggungjawaban semua orang, dan ini adalah pencekikan ekonomi terhadap rezim ini," kata Bessent.
Ia menimpali bahwa negara-negara yang menolak bergabung dengan sanksi AS akan turut berbagi dalam isolasi Iran.
Pemerintah China menegaskan bahwa hubungan bilateral mereka dengan Iran tidak boleh diganggu atau dirusak oleh sanksi sepihak AS.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian memperingatkan bahwa Beijing akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya.
David Lawder, koresponden perdagangan Reuters, memperingatkan risiko retaknya hubungan diplomasi dua kekuatan ekonomi dunia tersebut.
"Mengambil tindakan terhadap bank besar China yang akan memutuskan mereka dari sistem keuangan internasional akan sangat merugikan hubungan tersebut dan dapat menyebabkan beberapa masalah serius," ujar Lawder.
Ketegangan bersenjata ini bermula dari serangan udara bersama AS dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu untuk menghancurkan fasilitas rudal dan nuklir.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth saat itu menyatakan operasi bertujuan hancurkan rudal ofensif Iran, hancurkan produksi rudal Iran, hancurkan angkatan laut dan infrastruktur keamanan mereka lainnya, serta memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Meski serangan awal menewaskan pemimpin tertinggi Iran, sasaran utama untuk memusnahkan persediaan uranium terayakan hingga kini belum tercapai.