Info A1 Intelijen Ukraina, Ini Dia 8 Nama WNI Jadi Tentara Bayaran Rusia

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 01 September 2026 | 14:30 WIB
Info A1 Intelijen Ukraina, Ini Dia 8 Nama WNI Jadi Tentara Bayaran Rusia
Patroli tentara Rusia di Mariupol Ukraina. (Foto: AFP)
baca 10 detik
  • Intelijen Ukraina mempublikasikan daftar delapan WNI yang diduga direkrut masuk barisan militer Rusia.

  • Kementerian Luar Negeri RI tengah memverifikasi identitas dan mendalami dugaan penipuan perekrutan tersebut.

  • Pemerintah menegaskan aksi WNI tersebut merupakan tindakan pribadi dan tidak mewakili sikap resmi Indonesia.

Suara.com - Pemerintah Indonesia bergerak cepat memverifikasi kabar mengejutkan mengenai dugaan 8 warga negara Indonesia WNI yang bergabung dengan pasukan militer Rusia sebagai tentara bayaran. Kabar ini memicu perhatian serius dari Jakarta karena menyangkut kedaulatan status kewarganegaraan serta dugaan tindak pidana perdagangan orang berbasis penipuan kerja.

Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina (FISU) secara resmi mempublikasikan identitas delapan warga negara Indonesia yang masuk dalam barisan militer Rusia. Laporan tersebut membongkar pola perekrutan tenaga kerja asing yang dimanfaatkan untuk memperkuat barisan pendudukan di wilayah konflik.

Temuan intelijen asing ini menempatkan Indonesia pada posisi krusial untuk membuktikan apakah para WNI tersebut murni sukarelawan atau korban eksploitasi. Otoritas Kyiv merilis rincian identitas delapan individu tersebut, yakni Yuda Putra Pratama, Haryanto Dwi Kencana, Erwanda, dan Ngangun Hudri Fadli.

Empat nama lainnya yang masuk dalam daftar intelijen mencakup Muhammad Syaripudin, M Hadi Maulana, Wahyu Oktavian Iskandar, serta Helmi Nuraha Hakim. Para pekerja ini diduga tergiur janji manis berupa imbalan finansial besar, kewarganegaraan Rusia, serta jaminan sosial tanpa menyadari risiko nyata di lapangan.

"Janji berupa bayaran tinggi, tugas non-tempur, percepatan kewarganegaraan Rusia, dan tunjangan sosial menarik minat orang-orang yang-sering kali-tidak mengetahui ke mana sebenarnya mereka akan dikirim," tulis FISU, dikutip dari DW Jerman.

Pemerintah Indonesia langsung menelusuri kebenaran dokumen yang dikeluarkan oleh dinas intelijen luar negeri Ukraina tersebut.

Juru Bicara I Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, memastikan bahwa Kedutaan Besar RI di Moskow sedang memverifikasi data lapangan.

Langkah ini diambil untuk memastikan keabsahan identitas serta mekanisme perekrutan yang dialami oleh para warga negara Indonesia tersebut.

"Informasi mengenai identitas, status kewarganegaraan, proses perekrutan, serta bentuk keterlibatan individu yang disebutkan masih perlu dipastikan lebih lanjut," kata Yvonne dalam keterangannya, Senin (31/8).

baca juga

Pemerintah menegaskan bahwa hukum di Indonesia mengatur sanksi tegas berupa pencabutan kewarganegaraan bagi warga yang bergabung dengan tentara asing.

Kendati demikian, opsi perlindungan hukum tetap terbuka apabila terbukti ada unsur penipuan dalam tawaran lowongan kerja tersebut.

"Pemerintah Indonesia juga akan mendalami kemungkinan adanya unsur penipuan, eksploitasi, atau perekrutan melalui tawaran pekerjaan yang tidak sesuai dengan tujuan sebenarnya. Apabila terdapat WNI yang menjadi korban dalam proses tersebut, Pemerintah Indonesia akan mengambil langkah pelindungan yang diperlukan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," ujarnya.

Masyarakat yang berencana bekerja di luar negeri diimbau ekstra waspada terhadap tawaran kerja yang mengarah pada area konflik bersenjata.

Kemenlu menegaskan bahwa aktivitas perseorangan di medan perang sama sekali tidak memengaruhi sikap netral politik luar negeri Indonesia.

"Apabila keterlibatan WNI dalam angkatan bersenjata negara asing dimaksud terverifikasi, hal meupakan tindakan individual dan tidak merepresentasikan kebijakan maupun posisi Pemerintah Indonesia," kata Yvonne.

Isu keterlibatan tentara bayaran asing dalam pertempuran Rusia dan Ukraina terus berkembang seiring panjangnya durasi konflik kedua negara. Banyak warga negara berkembang terjebak dalam perangkap perekrutan tenaga kerja ilegal yang ternyata bermuara ke garis depan pertempuran. Indonesia sendiri secara konsisten menyuarakan penyelesaian konflik bersenjata secara damai dan menolak segala bentuk pelanggaran hukum internasional.

Ini Dia 8 Nama WNI Jadi Tentara Bayaran Rusia:

- Yuda Putra Pratama (kelahiran 9 Agustus 1997)

- Haryanto Dwi Kencana (kelahiran 14 Juli 1983)

- Erwanda (kelahiran 5 Agustus 1988)

- Ngangun Hudri Fadli (kelahiran 17 Sptember 1978)

- Muhammad Syaripudin (kelahiran 3 Agustus 1994)

- M Hadi Maulana (kelahiran 7 April 1987)

- Wahyu Oktavian Iskandar (kelahiran 22 Oktober 1985)

- Helmi Nuraha Hakim (kelahiran 27 Januari 1983)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Anak-anak di Ukraina dan Bagaimana Perang Merenggut Masa Kecil Mereka

Anak-anak di Ukraina dan Bagaimana Perang Merenggut Masa Kecil Mereka

Your Say | Selasa, 01 September 2026 | 14:15 WIB

Terjebak Lowongan jadi Satpam Bergaji Tinggi, 8 WNI Direkrut Jadi Tentara Bayaran Rusia

Terjebak Lowongan jadi Satpam Bergaji Tinggi, 8 WNI Direkrut Jadi Tentara Bayaran Rusia

News | Selasa, 01 September 2026 | 13:11 WIB

Info Intelijen RI: WNI Jadi Tentara Bayaran Rusia Direkrut Negara Pihak Ketiga, Diimingi Gaji Besar

Info Intelijen RI: WNI Jadi Tentara Bayaran Rusia Direkrut Negara Pihak Ketiga, Diimingi Gaji Besar

News | Selasa, 01 September 2026 | 13:05 WIB

Terkini

Kepala BPN Kabupaten Bogor Diamankan KPK dalam OTT, 17 Orang Diperiksa

Kepala BPN Kabupaten Bogor Diamankan KPK dalam OTT, 17 Orang Diperiksa

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 23:42 WIB

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

News | Senin, 14 September 2026 | 22:51 WIB

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

News | Senin, 14 September 2026 | 22:08 WIB

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

Bogor | Senin, 14 September 2026 | 22:05 WIB

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

News | Senin, 14 September 2026 | 22:00 WIB

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Sumut | Senin, 14 September 2026 | 21:53 WIB

Toilet Terminal Bubulak Dikeluhkan Sopir dan Pedagang, Jauh hingga Berbayar

Toilet Terminal Bubulak Dikeluhkan Sopir dan Pedagang, Jauh hingga Berbayar

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 21:47 WIB

Dugaan Pelecehan di Klub SCBD, Pengacara Korban Curiga Betrand Peto Dalam Pengaruh Zat Tertentu

Dugaan Pelecehan di Klub SCBD, Pengacara Korban Curiga Betrand Peto Dalam Pengaruh Zat Tertentu

News | Senin, 14 September 2026 | 21:38 WIB

Kabut Asap, Penderita ISPA di Pekanbaru Melonjak Capai 400 Orang per Hari

Kabut Asap, Penderita ISPA di Pekanbaru Melonjak Capai 400 Orang per Hari

Riau | Senin, 14 September 2026 | 21:37 WIB

Operasi SAR 8 Korban Hilang di Gunung Anak Krakatau Diperpanjang hingga 17 September

Operasi SAR 8 Korban Hilang di Gunung Anak Krakatau Diperpanjang hingga 17 September

Banten | Senin, 14 September 2026 | 21:37 WIB

×