Asap Kebakaran Hutan Kalimantan Sampai Filipina, Udara Manila Buruk

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 01 September 2026 | 17:38 WIB
Asap Kebakaran Hutan Kalimantan Sampai Filipina, Udara Manila Buruk
Jalanan di Manila (Antara)
baca 10 detik
  • Kabut asap kebakaran hutan Kalimantan memicu kualitas udara tidak sehat di Metro Manila.

  • Tingkat pencemaran tertinggi tercatat di Kota Parañaque dengan skor indeks PM2.5 mencapai 296.

  • Paparan partikel PM2.5 berisiko merusak organ vital, memicu kanker, hingga mengganggu tumbuh kembang anak.

Suara.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan Kalimantan merambah ke wilayah Metro Manila dan memicu bahaya kesehatan serius, per 1 September 2026. Paparan partikel mikro PM2.5 dalam jumlah tinggi kini mengancam organ vital warga di belasan kota Filipina. Departemen Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam (DENR-EMB) mencatat penurunan kualitas udara drastis sejak pukul 06.00 pagi. Kota Parañaque menempati posisi teratas dengan tingkat pencemaran mencapai angka 296.

Sebanyak 11 kota berada pada kategori sangat tidak sehat bagi sistem pernapasan manusia. Wilayah terdampak meliputi Quezon City (Ateneo) dengan skor 241, Las Piñas 237, Manila 231, Malabon 229, Taguig dan Valenzuela 224, Marikina 217, Muntinlupa 216, San Juan 213, serta Mandaluyong 207.

Wilayah Pateros dan Navotas menyusul pada angka 172 dan 153 yang dikategorikan sangat tidak sehat. Sementara itu, Makati mencatat skor 111 dan area Commonwealth Avenue di Quezon City menjadi yang terendah pada angka 98.

Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Jumat (31/7/2026). [ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU]
Foto udara asap membumbung tinggi dari kebakaran hutan dan lahan gambut di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Jumat (31/7/2026). [ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/YU]

Dikutip dari Inquirer, kondisi udara yang memburuk membuat otoritas mengimbau warga memeriksa pemantauan waktu nyata sebelum beraktivitas di luar rumah. Langkah ini penting untuk meminimalkan dampak paparan polusi pada tubuh.

Pemerintah menyediakan stasiun pemantauan resmi untuk menyajikan data konsentrasi PM2.5 di seluruh wilayah ibu kota. Warga diminta selalu merujuk pada informasi resmi DENR-EMB atau pemerintah daerah setempat selama masa krisis udara.

Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahaya partikel halus yang sanggup menembus sistem paru-paru hingga aliran darah. Zat racun ini berpotensi merusak fungsi organ utama manusia secara permanen.

Paparan jangka panjang memicu penyakit kardiovaskular, stroke, kanker paru-paru, hingga penyakit paru obstruktif kronis. Ancaman serius juga mengintai perkembangan otak janin sejak dalam kandungan.

Penelitian terbaru membuktikan hubungan paparan polusi pada masa kehamilan dengan keterlambatan perkembangan anak usia tiga tahun. Masalah psikologis seperti kecemasan, depresi, hingga gejala ADHD berisiko muncul pada usia tumbuh tumbuh dewasa.

Sektor medis menekankan bahwa lansia dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan racun udara ini. Kelompok dengan riwayat penyakit jantung dan pernapasan juga menghadapi risiko komplikasi yang jauh lebih tinggi.

baca juga

Indoor Air Hygiene Institute menegaskan bahaya nyata dari akumulasi debu mikro terhadap penurunan fungsi organ vital.

“Orang dengan masalah pernapasan dan jantung, anak-anak, dan lansia mungkin sangat sensitif terhadap PM2.5,” kata lembaga tersebut.

Partikel mikroskopis ini dapat memperburuk kondisi medis akut seperti asma berat dan serangan jantung mendadak. Lonjakan angka perawatan medis darurat di rumah sakit berbanding lurus dengan tingginya konsentrasi polutan.

“Studi ilmiah telah menghubungkan peningkatan paparan PM2.5 harian dengan peningkatannya penerimaan rumah sakit terkait pernapasan dan kardiovaskular, kunjungan kamar darurat, dan kematian,” kata studi lembaga tersebut.

Riset IQAir menunjukkan bahwa komposisi PM2.5 terdiri dari campuran zat kimia sulfat, nitrat, karbon hitam, serta ammonium. Partikel berbahaya tersebut bersumber dari proses pembakaran mesin, industri, pabrik, pembakaran batu bara, hingga material konstruksi.

Fenomena alam seperti badai debu, badai pasir, dan kebakaran hutan hebat turut menjadi penyumbang utama lonjakan PM2.5 di udara bebas. Lintas batas asap kebakaran hutan Kalimantan ini kini menjadi ancaman nyata bagi lingkungan antarnegara di Asia Tenggara.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kenapa Matahari Tampak Merah dan Jingga Saat Karhutla? Ini Penjelasannya

Kenapa Matahari Tampak Merah dan Jingga Saat Karhutla? Ini Penjelasannya

News | Selasa, 01 September 2026 | 16:25 WIB

Andai Sekolah Tetap Masuk saat Karhutla, Ini Dampak Kabut Asap bagi Kesehatan Anak

Andai Sekolah Tetap Masuk saat Karhutla, Ini Dampak Kabut Asap bagi Kesehatan Anak

Lifestyle | Selasa, 01 September 2026 | 16:05 WIB

Mengenal Ubi Bombing, Alternatif Pemadaman Karhutla Berbasis Tepung Singkong

Mengenal Ubi Bombing, Alternatif Pemadaman Karhutla Berbasis Tepung Singkong

News | Selasa, 01 September 2026 | 15:03 WIB

Terkini

Rupiah Babak Belur! Tembus Level Rp17.624 per Dolar AS Pagi Ini

Rupiah Babak Belur! Tembus Level Rp17.624 per Dolar AS Pagi Ini

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:39 WIB

Serba Salah Jadi Multifandom: Niat Cari Hiburan, Malah Terjebak Perang Antar-Fandom

Serba Salah Jadi Multifandom: Niat Cari Hiburan, Malah Terjebak Perang Antar-Fandom

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 10:38 WIB

Pasar Valas Dibayangi Gejolak, September Jadi Bulan Penuh Risiko

Pasar Valas Dibayangi Gejolak, September Jadi Bulan Penuh Risiko

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:35 WIB

Pertumbuhan Ekonomi RI Diproyeksi Capai 5,2% pada 2026

Pertumbuhan Ekonomi RI Diproyeksi Capai 5,2% pada 2026

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:33 WIB

6 Serum Tranexamic Acid untuk Melasma dan PIH, Mulai Rp34 Ribuan

6 Serum Tranexamic Acid untuk Melasma dan PIH, Mulai Rp34 Ribuan

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 10:30 WIB

Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil

Polisi Sebut Wanita di Video Viral Biksu Thailand Mendadak Kaya Sejak Bolak Balik Masuk Kuil

News | Senin, 14 September 2026 | 10:30 WIB

3 Orang Ditembak Mati Jelang Pemilu Perdana di Bangsamoro Filipina

3 Orang Ditembak Mati Jelang Pemilu Perdana di Bangsamoro Filipina

News | Senin, 14 September 2026 | 10:28 WIB

8 Lip Balm Berwarna untuk Bibir Hitam, Murah Bikin Tampak Segar Natural

8 Lip Balm Berwarna untuk Bibir Hitam, Murah Bikin Tampak Segar Natural

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 10:25 WIB

18 Kapal dan 1 Helikopter Dikerahkan Cari Jurnalis Hilang di Selat Sunda

18 Kapal dan 1 Helikopter Dikerahkan Cari Jurnalis Hilang di Selat Sunda

News | Senin, 14 September 2026 | 10:24 WIB

Wacana Wajib Rekening Bank untuk Warga, Ekonom Ingatkan Ancaman dan Beban APBN

Wacana Wajib Rekening Bank untuk Warga, Ekonom Ingatkan Ancaman dan Beban APBN

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 10:17 WIB

×