- Aliansi Masyarakat Sipil menggelar demonstrasi di Simpang 4 Gramedia Kota Yogyakarta pada Selasa malam, 1 September 2026.
- Warga mendesak pembubaran aksi karena memicu kemacetan, sehingga terjadi adu mulut dan aksi saling dorong.
- Aparat kepolisian berhasil meredakan situasi di lokasi sehingga kondisi sekitar Simpang Gramedia berangsur kondusif.
Suara.com - Ketegangan pecah di tengah gelombang demonstrasi Aliansi Masyarakat Sipil di kawasan Simpang 4 Gramedia, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9/2026) malam.
Berdasarkan pantauan langsung Suara.com di lokasi, gesekan fisik dan adu mulut sempat terjadi antara massa aksi dan sejumlah warga.
Suasana mulai memanas ketika sekelompok warga mendatangi barisan massa demonstran dan mendesak agar kerumunan segera membubarkan diri.
Warga mengeluhkan dampak penutupan jalan dan kemacetan lalu lintas, sementara massa aksi bersikukuh untuk tetap bertahan dan melanjutkan orasi secara tertib.
Perbedaan pendapat tersebut dengan cepat menyulut emosi kedua belah pihak di lapangan. Adu mulut tak terhindarkan hingga memicu aksi saling dorong yang memperkeruh kondisi di perempatan vital Kota Yogyakarta tersebut.
Akibat gesekan yang kian memuncak, massa aksi sempat terdesak dan dipukul mundur beberapa meter ke arah utara menuju Jalan Cik Ditiro. Barikade peserta demonstrasi perlahan bergeser untuk menghindari bentrokan fisik yang lebih luas dengan kelompok warga.
Aparat kepolisian yang berada di lokasi langsung bersiaga dan berupaya menengahi kedua pihak.
Petugas kepolisian membuat penyekatan di antara kedua kubu guna melerai adu mulut serta mengendalikan situasi agar kerusuhan tidak meluas ke area permukiman dan pertokoan sekitar.
"Pak saya dipukul," kata seorang massa aksi kepada polisi yang menemuinya.
"Pak ada ormas yang bawa sajam," teriak seorang dari kerumunan massa kepada polisi.
Hingga pukul 19.19 WIB, situasi di sekitar Jalan Cik Ditiro dan Simpang Gramedia perlahan mulai terkendali dan kondusif. Massa aksi memilih tetap bertahan menduduki badan jalan dengan pengawasan ketat dari pihak kepolisian setelah kelompok warga melangkah mundur.