- Kementerian Kesehatan RI mencatat 50.891 kasus ISPA di seluruh provinsi Kalimantan sejak Juli hingga 1 September 2026.
- Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut tersebut disebabkan oleh paparan kabut asap dari bencana kebakaran hutan dan lahan.
- Peningkatan gangguan pernapasan akibat asap lintas wilayah ini berdampak pada 63 kabupaten dan kota di pulau Kalimantan.
Suara.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat adanya lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara merata di seluruh provinsi di Kalimantan. Peningkatan kasus ini merupakan imbas langsung dari paparan kabut asap akibat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa waktu terakhir.
Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, MA, memaparkan bahwa puluhan ribu kasus ISPA telah terakumulasi sejak pertengahan tahun akibat kabut asap karhutla.
“Sejak kami pantau, terutama bulan Juli dan Agustus setelah ada potensi terjadinya peningkatan kebakaran, asap kebakaran daripada karhutla ini, terkumpul total kumulatif 50.891 kasus ISPA sejak bulan Juli,” ujar dr. Andi dalam konferensi pers virtual, Selasa (1/9/2026).
Berdasarkan data Kemenkes, puluhan ribu kasus tersebut menyerang berbagai kelompok usia, mulai dari balita hingga orang dewasa.
“Dari jumlah tersebut terbagi, usia 5 tahun itu sebanyak 12.600 dan di atas 5 tahun itu sebesar 38.291 kasus,” rincinya.
Lebih lanjut, dr. Andi menyoroti bahwa dampak kabut asap ini tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat di daerah yang menjadi titik api utama, melainkan menyebar merata ke seluruh pulau.
“Sebenarnya ya kasus ISPA ini terjadi peningkatan kasus bukan hanya pada 7 provinsi atau kabupaten tertentu yang punya indeks ispu yang tinggi. tetapi sebenarnya ini mencakup juga seluruh provinsi di Kalimantan,” tegas dr. Andi.
Ia mengambil contoh kondisi di Kalimantan Utara. Meski tidak memiliki titik api yang signifikan, wilayah tersebut tetap mencatatkan lonjakan pasien gangguan pernapasan jika dibandingkan dengan data tahun-tahun sebelumnya.
“Contohnya Kalimantan Utara, kebakaran hutan dan lahan di sana itu nyaris belum ada, tetapi peningkatan kasus ISPA, kalau kita lihat tadi itu meningkat ya. Dan kita dibandingkan dengan data 2025 dan 2026 saat ini menunjukkan memang ada peningkatan kasus di semua provinsi,” paparnya.
Kondisi di Kalimantan Utara tersebut membuktikan bahwa pergerakan asap lintas wilayah memegang peranan besar dalam penyebaran penyakit.
“Kalimantan Utara itu juga bisa peningkatan kasus karena memang asap ini kan tertiup angin ke provinsi sebelahnya, sehingga menimbulkan resiko atau kejadian daripada penyakit ISPA,” jelas dr. Andi.
Secara keseluruhan, sebaran wilayah terdampak imbas karhutla ini mengalami peningkatan yang cukup luas di tingkat daerah.
“Dan kami catat bahwa jumlah kabupaten kota yang meningkat kasus ISPA di tahun ini ada sebanyak 63 kabupaten kota,” pungkasnya.