- 78,5 persen titik panas kebakaran hutan di Kalimantan berada dalam habitat orang utan.
- Kebakaran tersebut melahap sekitar 25,8 juta hektar atau 60,2 persen total luas habitat orang utan.
- Bencana buatan manusia ini menghilangkan sumber makanan serta mengancam keselamatan hidup satwa tersebut.
Suara.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan tak hanya mengancam kawasan hutan, tetapi juga mempersempit habitat orang utan.
Hasil pemantauan organisasi kampanye lingkungan dan satwa liar Geopix menunjukkan mayoritas titik panas berada di kawasan yang menjadi ruang hidup primata dilindungi tersebut.
Berdasarkan pemetaan dan analisis spasial Geopix sejak Juni hingga Agustus 2026, sebanyak 78,5 persen dari total titik panas di Kalimantan terdeteksi berada di dalam habitat orang utan.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati mengatakan kondisi tersebut menunjukkan karhutla di Kalimantan merupakan bencana yang sebagian besar dipicu aktivitas manusia.
"Inilah yang kami namakan human-made disaster dalam konteks karhutla. Jadi sebenarnya karhutla itu bukan sesuatu yang alami, tetapi itu dibuat oleh manusia," kata Annisa kepada awak media, Kamis (3/9/2026).
Menurut Annisa, dampak karhutla terhadap orang utan tidak berhenti pada hilangnya pepohonan. Kebakaran juga menghilangkan vegetasi yang menjadi sumber makanan sekaligus tempat berlindung dan bersarang.
Ketika pohon dan vegetasi hutan terbakar, orang utan kehilangan buah, getah, serta sumber nutrisi lain yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.
"Kalau itu pohonnya habis, kemudian tidak ada buah yang dimakan, tidak ada getah yang dimakan oleh orangutan, ya berarti kita akan menyaksikan bagaimana pembunuhan masal terhadap orangutan itu kalau kita tidak segera mengatasi dampak karhutla yang seperti mata rantai yang enggak pernah terputus ini ya," tuturnya.
Geopix mencatat tekanan terhadap habitat orang utan semakin meningkat pada Agustus.
Dari tiga subspesies orang utan yang terdapat di Kalimantan, Pongo pygmaeus wurmbii disebut menjadi kelompok yang mengalami tekanan paling parah akibat konsentrasi hotspot di wilayah jelajahnya.
"Temuan utama kami bahwa peta sebaran hotspot mulai Juni sampai Agustus, terjadi peningkatan yang luar biasa di bulan Agustus, di mana kita temukan bahwa 78,5 persen hotspot itu berada di habitat orang utan kalimantan," ungkapnya.
Tak hanya hotspot, Geopix juga memetakan luas habitat orang utan yang terdampak kebakaran selama periode pemantauan tersebut.
"Jadi luas habitat orangutan yang terbakar dalam periode pemantauan mulai Juni sampai Agustus itu adalah 25.812.600-an hektar. Nah, itu sekitar 60,2 persen dari total luasan habitat orang utan kalimantan," ujarnya.
![Konferensi pers hasil pemantauan organisasi kampanye lingkungan dan satwa liar, Geopix di Yogyakarta, Kamis (3/9/2026). [Suara.com/Hiskia]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/03/36045-geopix.jpg)
Kerusakan habitat dalam skala tersebut membuat ruang hidup orang utan semakin terfragmentasi. Satwa yang kehilangan hutan juga berpotensi keluar dari habitatnya untuk mencari makanan dan tempat berlindung.
Kondisi itu membuka risiko baru berupa konflik dengan manusia, penangkapan, hingga perburuan ilegal.