- Desil ramai dibahas seiring penggunaan DTSEN sebagai rujukan pemerintah untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat.
- Banyak yang mengira nominal gaji tertentu otomatis menentukan seseorang masuk desil tertentu, termasuk desil 6-10.
- Artikel ini membahas penjelasan BPS mengenai apakah gaji menjadi indikator desil serta meluruskan fakta dan hoaks terkait desil 6-10.
Karena itu, satu indikator saja tidak secara otomatis menentukan posisi desil sebuah keluarga.
Dengan demikian, tidak tepat jika desil 6-10 diterjemahkan sebagai kelompok dengan gaji tertentu.
Desil 6 hingga 10 secara sederhana menunjukkan kelompok yang berada pada posisi kesejahteraan relatif lebih tinggi dibandingkan desil 1 hingga 5, bukan kelompok dengan rentang gaji yang sudah ditetapkan BPS.
Sebagai gambaran, seseorang yang memiliki gaji Rp3 juta per bulan juga tidak bisa langsung disimpulkan masuk desil 5 hanya berdasarkan nominal tersebut.
Fakta dan Hoaks Tentang Desil BPS
Masalah simpang siur informasi seputar desil diatasi oleh BPS dengan membuat materi "Salah Benar Tentang Desil" yang diunggah di media sosial resmi.
Dalam konten tersebut, dijelaskan apa saja daftar fakta dan hoaks tentang BPS. Berikut penjelasan lengkapnya agar tidak salah paham:
1. Hoaks: Gaji Rp3 juta pasti desil 5
Fakta: Tidak ada tabel resmi pengelompokan desil berdasarkan gaji bulanan. Tabel yang selama ini beredar di media sosial bukan data resmi dari BPS ataupun lembaga terkait lainnya.
2. Hoaks: BPS menentukan siapa yang menerima bansos
Fakta: Penetapan penerima bansos adalah kewenangan kementerian atau lembaga terkait. BPS berperan menyediakan data statistik dan sosial ekonomi sebagai bahan kebijakan.
3. Hoaks: Punya motor otomatis tidak menerima bansos
Fakta: Kepemilikan kendaraan bukan satu-satunya penentu. Penilaian kesejahteraan mempertimbangkan berbagai kondisi keluarga.
4. Hoaks: Desil ditentukan dari besaran gaji bulanan
Fakta: Desil merupakan pengelompokan tingkat kesejahteraan penduduk yang disusun berdasarkan berbagai indikator sosial ekonomi keluarga, bukan semata-mata berdasarkan besaran gaji bulanan. Informasi resmi terkait desil dan DTSEN diperoleh melalui kanal resmi pemerintah.
5. Hoaks: Desil adalah label miskin atau kaya
Fakta: Desil adalah pengolompokan tingkat kesejahteraan dengan memperhatikan karakteristik keluarga dan wilayah beserta distribusinya. Desil digunakan untuk prioritas penargetan program, bukan sebagai cap status sosial bagi seseorang.
6. Hoaks: Status desil bisa berubah otomatis tanpa proses
Fakta: Perubahan desil dapat terjadi apabila terdapat perubahan atau pembaruan data yang menjadi dasar pemeringkatan, baik yang berasal dari data administratif, pemutakhiran oleh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, maupun pembaruan informasi oleh masyarakat melalui SIKS-NG, Cek Bansos, atau Kanal Cek DTSEN.
Dengan memahami hal tersebut, pertanyaan "desil 6-10 gaji berapa?" sebenarnya tidak memiliki jawaban berupa rentang nominal gaji yang pasti.
Untuk mengetahui posisi desil, kondisi sosial ekonomi keluarga perlu dinilai secara keseluruhan berdasarkan data dan metode yang digunakan dalam DTSEN, bukan hanya melihat slip gaji atau nominal penghasilan bulanan.