-
Hampir 2.000 orang diduga keracunan massal setelah mengonsumsi sajian program Makan Bergizi Gratis.
-
Kasus tersebar di Sidoarjo, Rembang, Agam, Bener Meriah, dan Tana Toraja dengan korban mayoritas pelajar.
-
Badan Gizi Nasional menegaskan tidak memberi bantuan hukum jika ditemukan unsur pidana kelalaian.
"Kami juga meminta orangtua murid untuk terus memantau kondisi kesehatan anak, jika sakit dibawa ke puskesmas atau rumah sakit. Biaya penanganan medis ditanggung pemerintah," kata Juhartutik.
Manajemen sekolah merespons cepat dengan memanggil pengelola dapur penyedia untuk meminta pertanggungjawaban atas insiden kelam ini.
"Pihak SPPG sudah kami hubungi dan datang ke sekolah untuk bertanggung jawab," tambahnya.
Orang tua murid bernama Sunarsih membeberkan bahwa anaknya langsung menunjukkan reaksi mual dan diare sewaktu tiba di rumah pada Rabu sore.
"Namun saat ini sudah membaik," kata Sunarsih.
Kepala Puskesmas Lasem, dr Joko Paryanto, merinci ada 21 murid masuk pemeriksaan UGD dengan indikasi klinis keracunan makanan.
"17 siswa boleh pulang rawat jalan dan empat siswa rawat inap. Semua kondisinya baik dan tertangani dengan baik," terang Joko.
Pihak SPPG Soditan Lasem melalui Kepala SPPG, Achmad Sholeh Syarifudin, menyampaikan permohonan maaf mendalam kepada seluruh pemangku kepentingan sekolah.
"Kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak sekolah, orang tua, dan para siswa. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan penanganan medis berjalan optimal tanpa membebankan biaya sepeser pun kepada korban," kata Achmad.
Pihaknya berjanji menanggung penuh seluruh ongkos pengobatan korban hingga pulih total dari gangguan kesehatan tersebut.
"Semua pengobatan kami pastikan gratis dan dicover total. Kami bertanggung jawab penuh atas pemulihan kesehatan para siswa dan guru," jelas Achmad.
Evaluasi total kini diberlakukan terhadap seluruh jalur masak dan tata kelola operasional di dapur penyedia SPPG Soditan Lasem.
Di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, sebanyak 152 warga dari dua sekolah menengah pertama terpaksa dilarikan ke tiga rumah sakit di Kota Makale pada Kamis (03/09).
Para siswa SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale jatuh sakit usai menyantap makanan pasokan SPPG Batupapan pada Rabu (02/09).
Kepala SMPN 1 Makale, Yohanis Pakiding, membenarkan jajarannya melarikan para korban ke fasilitas kesehatan akibat krisis pencernaan massal.
"Karena sudah massal, sudah antre di WC, maka kami ambil tindakan secepatnya menghubungi rumah sakit dan puskesmas," ungkap Yohanis kepada wartawan Jufri Tonapa yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
Paket makanan berisi nasi, ayam masak air, perkedel, serta sayur tumis tiba di sekolah sekitar pukul 11.00 WITA dan sempat diperiksa petugas internal.
Namun, wali murid melaporkan temuan mengejutkan bahwa hidangan tersebut ternyata sudah berlendir, berbau amis, serta berdaging ayam mentah.
Bupati Tana Toraja, Zadrak Tombeq, memimpin pemantauan langsung terhadap penanganan korban di RSUD Lakipadada.
"Saya sudah sampaikan kepada semua pimpinan rumah sakit, bahwa ini harus segera ditangani sesegera dan seoptimal mungkin sesuai dengan SOP yang ada di rumah sakit," kata Zadrak.
Seluruh puskesmas dan tenaga medis di wilayah Makale telah dimobilisasi penuh untuk mengatasi darurat kesehatan anak-anak sekolah ini.
Isu keracunan MBG menjadi sorotan publik luas karena menyangkut standar keselamatan pangan nasional dalam skala besar.
Apalagi pihak kepolisian maupun otoritas terkait hingga saat ini belum menetapkan satu pun pihak sebagai tersangka atas kejadian kelam tersebut.
Sikap tegas ditunjukkan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, yang siap melempar penanganan kasus ini ke jalur hukum.
"kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf, kami tidak bisa bantu," tegas Sudaryono.