- Ketua Tim Formatur Mohammad Nuh menegaskan larangan mengeluarkan siswa miskin dari Sekolah Rakyat di Jakarta pada Jumat.
- Sekolah Rakyat dilarang melakukan seleksi akademik dan wajib menerima anak dari keluarga miskin golongan Desil-1 serta Desil-2.
- Sekolah Rakyat menolak filosofi lama pendidikan dan berkomitmen mengubah seluruh siswa masuk menjadi emas melalui jargon making impossible possible.
Suara.com - Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Prof. Mohammad Nuh mengingatkan tidak boleh ada siswa yang dikeluarkan atau drop out dari Sekolah Rakyat.
Menurut Nuh, prinsip tersebut menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang memang ditujukan untuk memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anak dari keluarga miskin.
"Enggak boleh melepaskan atau men-DO anak-anak di Sekolah Rakyat, prinsipnya itu. Kalau kita DO terus siapa yang ngurus?" kata Nuh kepada wartawan di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Nuh mengatakan Sekolah Rakyat juga tidak boleh menerapkan seleksi akademik dalam penerimaan siswa. Anak-anak yang memenuhi kriteria berdasarkan kondisi sosial ekonomi tetap harus mendapatkan kesempatan masuk.
"Siapapun sepanjang dia masuk di Desil-1, Desil-2 atau miskin, harus masuk. Bentuknya seperti apapun, harus masuk," ujarnya.
Menurut Nuh, prinsip tersebut membedakan Sekolah Rakyat dengan pola pendidikan yang selama ini menggunakan kemampuan akademik sebagai salah satu dasar dalam menyaring calon siswa.
Ia kemudian menyinggung jargon yang selama ini dikenal dalam dunia pendidikan, yakni Garbage In, Garbage Out. Menurutnya, filosofi tersebut tidak boleh digunakan dalam Sekolah Rakyat.
"Sehingga jargon, kalau di sekolah-sekolah itu, Garbage In, Garbage Out, itu yang jargon yang biasa dipakai. Kalau masuknya sampah, keluarnya sampah. Ini filosofi orang-orang pendidikan yang lama, filosofi lama. Makanya dia enggak mau menerima anak-anak yang tidak begitu bagus," katanya.
Nuh mengatakan Sekolah Rakyat justru harus memiliki filosofi berbeda. Anak dengan kondisi awal seperti apapun tetap harus mendapatkan kesempatan untuk berkembang selama berada di sekolah.
"Di sekolah rakyat, filosofinya enggak boleh pakai filosofi itu. Apapun yang masuk, harus menjadi emas," ujar Nuh.
Ia mengatakan prinsip tersebut kemudian diterjemahkan dalam jargon Sekolah Rakyat, yakni making impossible possible.
Artinya, sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak mungkin oleh sekolah pada umumnya harus diupayakan menjadi mungkin di Sekolah Rakyat.