- Kebakaran hutan dan lahan seluas hampir 300.000 hektare di Sumatra dan Kalimantan memicu emisi karbon ekstrem sepanjang tahun ini.
- Pemerintah Malaysia menetapkan status darurat di Sarawak serta menutup ratusan sekolah akibat paparan kabut asap lintas batas negara tersebut.
- Lebih dari 5 juta warga Indonesia terpapar langsung risiko kesehatan karena kabut asap yang juga memburuk di Singapura dan Filipina.
Kondisi kualitas udara kemudian perlahan membaik, meski kabut asap masih menjadi perhatian.
Di Singapura, dampak kabut asap juga mulai terlihat.
Data National Environment Agency menunjukkan kualitas udara di kawasan tengah negara tersebut mencapai kategori tidak sehat pada Jumat.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan lebih dari 5 juta orang di Sumatra dan Kalimantan terpapar langsung risiko kesehatan akibat kabut asap.
Para analis menilai fenomena El Nino turut memperburuk kondisi karena menyebabkan cuaca lebih kering.
Kondisi tersebut membuat api lebih mudah menyebar dan kebakaran menjadi jauh lebih sulit dikendalikan.
Namun, El Nino bukan satu-satunya penyebab.
Praktik pembukaan lahan dengan cara membakar juga disebut berperan dalam memperluas kebakaran.
David Gaveau, pendiri Nusantara Atlas, menegaskan El Nino tidak secara langsung menyalakan api.
"El Nino tidak menyalakan kebakaran. Fenomena ini menciptakan kondisi kering yang memungkinkan api yang dimulai manusia lepas kendali dan menjadi sangat besar," ujar Gaveau kepada AFP.