- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meletus pada 4 hingga 5 September 2026.
- Erupsi BRIN melontarkan material vulkanik setinggi 13 hingga 14 kilometer menembus lapisan tropopause.
- Dampak letusan menyebabkan penutupan Bandara Soekarno-Hatta serta berpotensi memengaruhi iklim global.
Suara.com - Skala erupsi Gunung Anak Krakatau yang baru-baru ini terjadi dinilai sangat masif dan memiliki dampak yang melampaui sekadar gangguan lokal.
Analisis terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa kekuatan letusan gunung api di Selat Sunda ini mampu melontarkan material vulkanik hingga ketinggian yang ekstrem, melampaui batas atmosfer bawah bumi.
Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, membeberkan analisis terkait aktivitas erupsi eksplosif Gunung Api Anak Krakatau yang memicu sebaran abu vulkanik masif.
Berdasarkan data satelit, erupsi ini bukan sekadar letusan biasa, melainkan sebuah fenomena atmosferik yang signifikan.
Sebagai informasi, letusan Gunung Api Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat (4/9) malam pukul 23:07 WIB hingga Sabtu (5/9) pagi pukul 04:40 WIB.
Aktivitas ini terjadi setelah peningkatan status gunung tersebut yang kembali aktif sejak Juli 2026.
Durasi erupsi yang panjang ini memberikan energi yang cukup besar untuk mendorong kolom abu ke lapisan langit yang lebih tinggi.
Dalam unggahan di akun X pribadinya, Erma membeberkan pantauan citra satelit yang menunjukkan material letusan Gunung Api Anak Krakatau membentuk kolom awan tebal yang bergerak ke arah barat dengan bentangan mencapai 851 kilometer, mencakup wilayah hingga Pulau Enggano. Jangkauan ini menunjukkan betapa besarnya volume material yang dilepaskan ke udara.
Besarnya volume material yang terpantau jelas secara visual menandakan skala letusan yang sangat signifikan.
Hal yang paling menarik perhatian para peneliti adalah ketinggian kolom letusan yang mencapai angka belasan kilometer dari permukaan laut.
Simulasi atmosfer menunjukkan bahwa erupsi ini melontarkan kolom letusan yang sangat tinggi, dengan estimasi mencapai 13 hingga 14 kilometer.
Ketinggian tersebut bahkan menyentuh lapisan tropopause, batas atas troposfer yang memungkinkan material vulkanik tersebar luas ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Ketika material vulkanik berhasil menembus tropopause, abu dan gas sulfur tidak lagi hanya berinteraksi dengan cuaca harian, tetapi masuk ke lapisan stratosfer.
Di lapisan ini, partikel dapat bertahan lebih lama dan menyebar secara global, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kondisi iklim dalam skala yang lebih luas.
Menurut Erma, meskipun sebaran utama saat ini didominasi ke arah barat, dinamika cuaca lokal tetap patut diwaspadai.