- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda meletus pada 4 hingga 5 September 2026.
- Erupsi BRIN melontarkan material vulkanik setinggi 13 hingga 14 kilometer menembus lapisan tropopause.
- Dampak letusan menyebabkan penutupan Bandara Soekarno-Hatta serta berpotensi memengaruhi iklim global.
Pada waktu-waktu tertentu, kombinasi tekanan rendah di Banten serta hembusan angin laut yang kuat berpotensi menarik sebaran awan piroklastik ini mengarah ke wilayah Serang, Banten, dan sekitarnya.
Hal ini menjadi ancaman serius bagi kualitas udara di kota-kota besar di sekitar Selat Sunda.
Imbas erupsi ini, Bandara Soekarno-Hatta juga ditutup hingga pukul 09:30 WIB yang berdampak pada 22.798 penumpang.
Penutupan ini dilakukan demi keselamatan penerbangan, karena debu vulkanik yang sangat halus dapat menyebabkan mesin pesawat mati mendadak jika terhisap ke dalam turbin.
Di balik gangguan operasional penerbangan dan kualitas udara yang ditimbulkannya, erupsi ini turut membawa dampak alami bagi iklim global:
Pemicu Kondensasi Hujan: Awan abu panas yang mengandung sulfur oksida dan membentuk awan pyrocumulus dapat bertindak sebagai aerosol serta inti kondensasi awan.
Jika didukung oleh suplai uap air yang memadai dari Samudra Hindia (kondisi tidak terjadi IOD positif), fenomena ini berpotensi memicu terjadinya hujan.
Penyejuk Suhu Atmosfer: Pelepasan sulfur dalam jumlah masif ke atmosfer secara alami berfungsi mendinginkan temperatur global.
Partisikel aerosol sulfur ini mampu memantulkan kembali radiasi matahari ke ruang angkasa, sehingga berperan dalam meredam laju pemanasan global (global warming).
Fenomena ini sering disebut sebagai efek "tabir surya" alami yang dihasilkan oleh letusan gunung berapi skala besar.