- Sindikat peretas global kini mengeksploitasi kelemahan psikologis manusia melalui taktik rekayasa sosial untuk membobol keamanan.
- Akar Inti Enterprise menggelar kampanye kesadaran berjudul "Now You See: Now You Aware" untuk meningkatkan literasi digital.
- Dr. Wani Sabu menyatakan bahwa 99 persen kasus pembobolan perbankan bermula dari kelengahan individu akibat rekayasa sosial.
"Banyak personal yang jarang periksa ulang apabila ada orang asing mengontak menawarkan hadiah, tautan tidak jelas," tegasnya.
"Biasakan jangan FOMO, jangan mengunduh aplikasi yang tidak perlu, pada intinya harus periksa ulang," tambah Wani memberikan peringatan kewaspadaan.
Membangun Budaya Sadar Keamanan
Menyadari kompleksitas ancaman siber internasional yang kini membidik sisi manusia, Akar Inti Enterprise memosisikan diri lebih dari sekadar penjual teknologi kelembagaan.
"Ancaman siber hari ini tidak lagi hanya menyerang sistem, tetapi manusianya," ungkap Astari Kartika mengamati tren kejahatan global.
Ia menyadari bahwa secanggih apa pun tembok api pertahanan yang dibangun sebuah korporasi, tingkat kewaspadaan tiap individu tetap menjadi lapis pelindung penentu.
"Secanggih apa pun teknologi yang kita bangun, kesadaran setiap individu tetap menjadi kunci utama," tegasnya.
"Lewat 'Now You See: Now You Aware', kami ingin mengajak semua orang untuk lebih peka, karena langkah kecil yang kita ambil hari ini bisa menjadi pelindung di kemudian hari," pungkas Astari.
Mengadopsi Pola Pikir Peretas
Acara edukasi strategis tersebut turut menghadirkan Founder Orang Siber Indonesia, Dendi Zuckergates, yang mengupas cara berpikir seorang peretas untuk membangun mentalitas bertahan.
Di tengah kampanye kesadaran keamanan tersebut, penyelenggara juga memperkenalkan produk inovatif bernama Mokio yang dirancang untuk mempermudah proses pengujian sistem pemrograman (API) tanpa perlu menulis kode rumit.
Maraknya serangan social engineering di kancah global menjadi pengingat bahwa transformasi digital harus selalu diiringi edukasi keamanan.
Sindikat peretas internasional kini beroperasi layaknya korporasi raksasa dengan mengeksploitasi kelengahan manusia sebagai jalan pintas untuk mencuri data dan meraup keuntungan di seluruh dunia.