- PVMBG melaporkan aktivitas Gunung Anak Krakatau menurun, namun potensi erupsi susulan di Selat Sunda tetap ada.
- Pihak berwenang memantau sebaran abu vulkanik yang bergerak ke arah barat demi menjaga keselamatan jalur penerbangan.
- Gunung Anak Krakatau berstatus Siaga, dan warga dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah.
Suara.com - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau mulai menurun. Namun, kondisi tersebut belum menjadi tanda bahwa gunung api tersebut telah berhenti beraktivitas. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan potensi erupsi susulan masih tetap ada.
Kepala PVMBG Rita Susilawati mengatakan penurunan aktivitas terpantau melalui sejumlah alat pemantauan yang bekerja secara terus-menerus. Meski demikian, perubahan tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Anak Krakatau telah berakhir.
"Memang saat ini alat pemantauan kami memonitor aktivitas Gunung Anak Krakatau menurun, tetapi menurunnya itu bukan berarti akan berhenti aktivitas nya. Kemungkinan masih akan terjadi erupsi," katanya usai meninjau Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang, Minggu.
Karena itu, PVMBG masih melakukan pemantauan Gunung Anak Krakatau selama 24 jam. Setiap perubahan hasil pengamatan akan dikomunikasikan kepada pemerintah daerah, terutama jika terdapat perubahan rekomendasi terkait penanganan kebencanaan.
Selain aktivitas erupsi, arah sebaran abu vulkanik juga menjadi perhatian. Pergerakan abu sangat dipengaruhi embusan angin sehingga arah sebarannya dapat berubah dari hari ke hari.
Pada 6 September, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau bergerak ke arah barat, bagian selatan Selat Sunda, hingga Samudra Hindia.
"Kami memonitor di sini ada beberapa stasiun pengamatan, bekerja sama dengan BMKG dan juga ada stasiun di Australia yang kita bisa bersama-sama memantau perubahan arah angin untuk abu ini, karena abu ini juga akan memengaruhi penerbangan," ujarnya.
Pemantauan arah abu tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan peringatan dini, khususnya untuk menjaga keselamatan penerbangan yang melintasi wilayah terdampak.
Gunung Anak Krakatau hingga kini masih berstatus Level III atau Siaga. Rita menjelaskan, penetapan status tersebut tidak hanya didasarkan pada besar kecilnya letusan, tetapi juga mempertimbangkan potensi bahaya yang dapat ditimbulkan terhadap masyarakat di sekitar kawasan gunung api.
Dengan aktivitas erupsi yang masih berpotensi terjadi, PVMBG mengingatkan warga maupun nelayan untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah.
PVMBG juga menegaskan bahwa waktu terjadinya erupsi tidak dapat dipastikan secara tepat. Pemantauan dilakukan untuk membaca perubahan aktivitas dan tanda-tanda yang muncul sebelum erupsi.
"Kapan erupsi nya secara persis itu tidak bisa kita ketahui. Yang bisa kita lakukan adalah melakukan pemantauan dan membaca tanda-tandanya," tutup Rita.