-
Sejarah Gunung Anak Krakatau dimulai dari kemunculannya pada tahun 1927.
-
Pertumbuhan tinggi Anak Krakatau tergolong sangat cepat dibanding gunung lain.
-
Longsoran bodi gunung memicu bencana tsunami Selat Sunda pada 2018.
Suara.com - Sejarah Gunung Anak Krakatau kembali mencuri perhatian dunia menyusul aktivitas vulkaniknya yang meningkat belakangan ini.
Gunung api yang terletak di Selat Sunda ini bukan sekadar tumpukan material vulkanik, melainkan saksi bisu dari kekuatan alam yang terus membangun ulang dirinya setelah kehancuran total.
Sejarah Anak Krakatau pun tidak bisa dilepaskan dari induknya, Gunung Krakatau.

Lahir dari Rahim Kaldera 1883
Pada Agustus 1883, Krakatau meletus dengan kekuatan kataklismik yang melenyapkan dua pertiga tubuh pulaunya.
Puncak Gunung Perbuwatan dan Danan sirna, menyisakan lubang besar di dasar laut yang dikenal sebagai kaldera.
Pasca letusan dahsyat itu, area tersebut sempat menjadi laut dangkal yang tenang.
Namun, di bawah permukaan air, aktivitas magma ternyata tidak pernah benar-benar mati.
Perjuangan Muncul ke Permukaan (1927-1930)
Pada awal tahun 1927, tanda-tanda kehidupan mulai muncul. Asap dan letusan kecil mulai terlihat di titik bekas puncak yang hilang. Namun, kelahiran Anak Krakatau tidaklah mudah.
Daratan yang sempat muncul sering kali runtuh kembali dalam hitungan hari akibat hantaman gelombang laut.
Proses "timbul-tenggelam" ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Barulah pada 11 Agustus 1930, daratan ini berhasil bertahan dan secara resmi menjadi pulau vulkanik baru yang dinamakan Anak Krakatau.
Pertumbuhan Anak Krakatau yang Sangat Cepat
Anak Krakatau dikenal oleh para ahli vulkanologi dunia sebagai gunung api yang sangat aktif dan pertumbuhannya pesat. Sejak muncul, tingginya terus bertambah dengan laju fantastis, yakni sekitar 7 hingga 9 meter per tahun.
- 1935: Tinggi 63 meter.
- 1955: Tinggi 155 meter.
- September 2018: Mencapai titik tertinggi 338 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Pertumbuhan pesat ini menjadikannya laboratorium alam bagi para peneliti internasional untuk mempelajari bagaimana ekosistem baru terbentuk di pulau vulkanik yang masih muda.