-
Erupsi dahsyat Gunung Anak Krakatau memaksa AirNav Indonesia menutup sementara delapan bandara strategis nasional.
-
Penutupan ruang udara menyebabkan kelumpuhan jadwal penerbangan hingga mengganggu rotasi pesawat di berbagai wilayah.
-
Badan Geologi mencatat letusan kali ini menjadi yang terkuat sejak peningkatan aktivitas pada Juli.
Suara.com - Letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau memaksa AirNav Indonesia menghentikan sementara operasional delapan bandara utama, termasuk Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Radin Inten II Lampung. Langkah darurat ini memicu kekacauan jadwal penerbangan nasional hingga berdampak ke Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali serta Kualanamu Medan.
Dampak erupsi ini memicu gangguan rotasi armada udara secara meluas di berbagai lini penerbangan. Penutupan ruang udara secara mendadak juga memicu penumpukan ribuan calon penumpang di berbagai terminal bandara.
Gelombang pembatalan rute membuat banyak penumpang mancanegara terdampar tanpa kepastian dari pihak maskapai. Sebagian calon penumpang mengeluhkan minimnya respons cepat dan pembaruan informasi terkini di area terminal.

Seorang wisatawan asal Spanyol, Diego Urdiales, yang hendak terbang kembali ke Madrid mengungkapkan situasinya di bandara.
"Ini tentu saja sebuah ketidaknyamanan. Saya seharusnya mendapatkan kabar dari pihak maskapai... tapi sejauh ini belum ada berita," kata Diego Urdiales, dikutip dari AFP.
Di sisi lain, sejumlah penumpang domestik memilih bersikap maklum menghadapi gangguan akibat fenomena alam tersebut. Mereka menyadari bahwa keselamatan penerbangan merupakan hal yang tidak bisa ditawar saat bencana terjadi.
Kementerian Perhubungan menegaskan tidak akan mengambil risiko sekecil apa pun terkait ancaman abu vulkanik di jalur penerbangan. Keputusan penutupan ruang udara diambil demi mencegah kerusakan fatal pada mesin pesawat terbang.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa keselamatan perjalanan udara menjadi prioritas utama.
Otoritas penerbangan mengimbau masyarakat untuk mewaspadai potensi keterlambatan jadwal penerbangan dalam beberapa hari ke depan. Proses pemulihan operasional diprediksi memakan waktu cukup lama karena adanya penumpukan pesawat.
Lukman juga memperingatkan bahwa jadwal penerbangan berpotensi mengalami gangguan berantai yang berdampak pada rotasi pesawat, ketersediaan armada, hingga kapasitas terminal selama proses pemulihan operasional.
Penyebab utama kelumpuhan lalu lintas udara ini berasal dari lonjakan intensitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang sangat signifikan. Pengamatan mencatat muntahan material vulkanik kali ini merupakan yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau telah meningkat sejak Juli dan letusan kali ini merupakan yang terkuat sepanjang periode tersebut.
Peningkatan tekanan dari dalam perut bumi mengindikasikan bahwa potensi letusan susulan masih sangat tinggi. Pasokan energi magma terus terdorong naik ke permukaan secara konsisten.
Erupsi berulang menunjukkan adanya pasokan magma dan gas vulkanik yang terus berlanjut dari bawah permukaan Bumi.
Sebagai informasi latar belakang, Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang terletak di Selat Sunda dan memiliki riwayat erupsi berkala. Peningkatan aktivitas yang dimulai sejak Juli lalu kini mencapai puncaknya hingga menyebarkan abu vulkanik ke jalur penerbangan strategis Indonesia.