- Fasilitas riset HAARP di Alaska dituduh memicu bencana alam seperti gempa bumi dan erupsi gunung.
- Para ahli menegaskan klaim tersebut salah karena HAARP hanya meneliti ionosfer, bukan kerak Bumi.
- Perbedaan skala energi membuktikan fasilitas radio tersebut tidak mampu menghasilkan gempa tektonik besar secara alami.
Suara.com - Klaim bahwa High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) dapat memicu bencana alam dari tsunami, gempa bumi hingga gunung meletus kembali beredar di media sosial.
Pernyataan itu salah satunya datang dari Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan mengenai HAARP di tengah fenomena erupsi enam gunung api di Indonesia menuai sorotan publik.
Program penelitian yang berpusat di Alaska, Amerika Serikat, itu selama bertahun-tahun dikaitkan dengan berbagai teori konspirasi, mulai dari pengendalian cuaca hingga rekayasa bencana alam.
Namun, bukti ilmiah yang tersedia tidak mendukung klaim bahwa HAARP mampu menciptakan atau memicu gempa bumi.
HAARP merupakan fasilitas penelitian yang digunakan untuk mempelajari ionosfer, bagian atmosfer atas yang berada jauh di atas permukaan Bumi.
Fasilitas tersebut kini dioperasikan oleh University of Alaska Fairbanks (UAF), setelah pengelolaannya dialihkan dari Angkatan Udara Amerika Serikat pada 2015.
Fasilitas tersebut menggunakan pemancar radio frekuensi tinggi atau HF untuk memberikan energi ke wilayah terbatas ionosfer.
Para peneliti kemudian mengamati respons plasma menggunakan berbagai instrumen.
Dengan kata lain, HAARP memang dapat mengubah kondisi plasma ionosfer secara sementara.
Tetapi kemampuan tersebut berbeda jauh dari kemampuan memengaruhi kerak Bumi atau mengendalikan sistem cuaca.
Mengapa HAARP Dikaitkan dengan Gempa?
Teori yang menghubungkan HAARP dengan gempa bumi biasanya berangkat dari fakta bahwa fasilitas tersebut menggunakan pemancar berdaya tinggi.
Keberadaan ratusan antena dan kemampuan memancarkan gelombang radio ke atmosfer kemudian sering digunakan sebagai dasar dugaan bahwa energi HAARP dapat diarahkan ke bawah permukaan Bumi dan memicu pergeseran patahan.
Dugaan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
HAARP dirancang untuk mengirimkan gelombang radio ke ionosfer, bukan untuk mentransmisikan energi ke kerak Bumi.