- Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami empat kali erupsi pada Selasa, 8 September 2026.
- PVMBG mencatat letusan terakhir terjadi pukul 11.34 WIB dengan amplitudo maksimum mencapai 55 mm.
- Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif demi menghindari bahaya letusan.
Pada letusan pembuka ini, visual letusan juga tidak teramati secara jelas oleh petugas di lapangan.
Data seismograf menunjukkan bahwa pada erupsi pertama pukul 05.08 WIB, amplitudo maksimum berada di angka 47 mm dengan durasi gempa letusan selama 15 detik.
Tidak berselang lama, tepatnya pada pukul 05.34 WIB, erupsi kedua kembali terjadi. Pada fase ini, amplitudo terekam sedikit menurun di angka 44 mm dengan durasi yang lebih singkat, yakni 10 detik.
Aktivitas vulkanik tidak berhenti di situ. Erupsi ketiga tercatat terjadi pada pukul 07.49 WIB.
Pada letusan ketiga ini, kekuatan tekanan vulkanik kembali meningkat dengan amplitudo maksimum mencapai 48 mm dan durasi yang lebih lama dibandingkan dua letusan sebelumnya, yaitu 19 detik.
Sama seperti kejadian lainnya, kondisi visual pada letusan ketiga ini juga tidak dapat teramati secara maksimal.
Rekomendasi Keamanan dan Radius Bahaya
Merespons rentetan erupsi yang terjadi hari ini, PVMBG memberikan rekomendasi ketat bagi masyarakat, wisatawan, maupun nelayan yang beroperasi di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Mengingat karakter letusan Anak Krakatau yang bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa didahului tanda-tanda yang jelas secara visual, zona aman menjadi hal yang mutlak dipatuhi.
Masyarakat diminta tidak mendekati G. Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif. Radius ini ditetapkan untuk menghindari potensi bahaya lontaran material pijar, hujan abu lebat, maupun gas beracun yang dapat keluar saat terjadi erupsi.
Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada level yang memerlukan pengawasan ketat, dan koordinasi antara PVMBG, BNPB, serta pemerintah daerah terus diperkuat untuk mengantisipasi skenario terburuk.
Pihak berwenang juga mengingatkan agar masyarakat tidak terpancing oleh isu-isu atau berita bohong (hoaks) yang sering beredar di media sosial pasca-kejadian erupsi.
Informasi resmi mengenai aktivitas gunung api di Indonesia hanya bersumber dari PVMBG melalui aplikasi Magma Indonesia atau situs resmi kementerian terkait.
Kesadaran akan mitigasi bencana secara mandiri, seperti menyiapkan masker untuk antisipasi abu vulkanik, sangat disarankan bagi warga yang berada di wilayah terdampak arah angin.