- Menteri PPPA Arifah Fauzi menyatakan program Makan Bergizi Gratis di Jakarta pada Rabu, 9 September 2026, harus dilihat secara utuh tanpa hanya berfokus pada kasus keracunan.
- Badan Gizi Nasional menutup sejumlah dapur yang tidak sesuai standar sebagai bentuk evaluasi nyata atas pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis tersebut.
- Pemerintah memberikan pendampingan terkait siswi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang mengalami dugaan keracunan dan gangguan ingatan setelah mengonsumsi makanan pada 13 Agustus 2026.
Suara.com - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi meminta program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak dinilai hanya dari kasus keracunan yang terjadi di sejumlah daerah. Menurutnya, pemerintah terus melakukan perbaikan terhadap pelaksanaan program tersebut.
Hal itu disampaikan Arifah saat menanggapi kasus dugaan keracunan MBG di Karo, Sumatera Utara, yang salah satunya dilaporkan dialami seorang siswi hingga mengalami gangguan ingatan.
"MBG itu kan program bagus untuk memberikan hak anak sebagai bagian dari warga negara Indonesia. Kalau memang masih ada kekurangannya, pemerintah juga sedang melakukan perbaikan-perbaikan dari berbagai hal," kata Arifah kepada wartawan di Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Arifah kemudian menyoroti langkah Badan Gizi Nasional (BGN) dalam melakukan evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia turut mengapresiasi keputusan Kepala BGN Sudaryono yang menutup sejumlah dapur MBG itu karena ditemukan tidak memenuhi standar.
"Artinya, bukan sekadar evaluasi, tapi aksi nyata dengan menutup SPPG yang memang tidak sesuai standar," ujarnya.
Menurut Arifah, berbagai langkah tersebut perlu dilihat secara utuh dalam menilai pelaksanaan program MBG.
"Jadi, jangan dilihat sepotong-sepotong, tapi lihatlah upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah untuk menyempurnakan dari kekurangan-kekurangan yang sekarang terjadi," tuturnya.
Terkait kondisi siswi di Karo yang dilaporkan mengalami gangguan ingatan setelah dugaan keracunan MBG, Arifah mengatakan pemerintah masih melakukan koordinasi dan pendampingan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
"Ini sedang kami koordinasikan, lagi dilakukan pendampingan secara menyeluruh dan utuh kira-kira seperti apa kondisi yang sesungguhnya. Jadi belum bisa dieksekusi sekarang, kita lihat karena ketahanan tubuh seseorang kan berbeda," katanya.
Kasus ini bermula ketika sejumlah pelajar di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG pada 13 Agustus 2026. Salah satu siswa, FB, kemudian dilaporkan mengalami kondisi lebih serius.
FB dilapirkan sempat jalani perawatan di rumah sakit, namun setelah sampai rumah, ia mengalami kejang dan kemudian dibawa kembali ke RS Haji Medan. Setelah itu, keluarga melihat perubahan perilaku dan kemampuan mengingat.
Bahkan FB disebut sempat tidak mengenali anggota keluarga dan teman sekolahnyahingga disebut mengalami gangguan ingatan setelah sempat mengalami kejang.
Kondisi tersebut membuat siswi tersebut kembali mendapat perawatan dan menjalani pemeriksaan medis.
Kementerian Kesehatan sebelumnya menyatakan masih melakukan penanganan dan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Hubungan antara gangguan ingatan yang dialami siswi dengan konsumsi MBG juga belum dapat dipastikan secara medis.