-
Donald Trump mengklaim AS menguasai Selat Hormuz dan berniat mengubah namanya menjadi Selat Trump.
-
AS mengancam akan menggempur fasilitas militer Iran untuk mencegah kepemilikan senjata nuklir.
-
Eskalasi konflik memanas meski kedua negara sempat menandatangani kesepakatan damai pada Juni lalu.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan klaim sepihak untuk mengubah nama Selat Hormuz menjadi "Selat Trump" di tengah konflik panas dengan Iran. Pernyataan kontroversial ini menandai babak baru eskalasi geopolitik di jalur perdagangan energi terpenting dunia tersebut.
Trump menegaskan dominasi militer negaranya yang mengendalikan penuh kawasan strategis itu saat ini. Menurutnya, perubahan nama ini menjadi simbol kemenangan mutlak Amerika Serikat atas Tehran.
Langkah provokatif Washington diprediksi bakal memicu kemarahan diplomatik baru dari para pemimpin Iran. Padahal, kawasan tersebut merupakan urat nadi distribusi minyak mentah global yang sangat sensitif.

“Harga minyak akan turun segera setelah kita memenangkan perang dengan Iran, yang sedang berlangsung saat ini. Kita akan memenangkannya,” ujar Trump dalam konvensi paruh waktu Partai Republik di Dallas, Texas.
Ia pun menambahkan gagasannya terkait nama baru jalur pelayaran internasional tersebut.
“Kita memenangkannya. Kita mengendalikan Selat Hormuz. Saya pikir kita harus menyebut Selat Hormuz, kita harus menyebutnya Selat Trump. Saya harus mendapatkan sesuatu dari ini. Selat Trump," kata Trump.
“Itu akan disebut -- bapak-bapak dan ibu-ibu, Saya akan membuat pengumuman -- kita akan menyebutnya Selat Trump, dan Saya yakin kepemimpinan Iran akan sangat senang dengan hal itu,” ucapnya.
Trump menilai kekuatan rezim Iran saat ini terus merosot drastis akibat tekanan militer dan ekonomi yang konstan. Pengaruh geopolitik negara para mullah itu dianggap telah hancur total dibanding dekade sebelumnya.
Dominasi panjang Tehran di kawasan Timur Tengah kini diklaim telah berakhir sepenuhnya. Amerika Serikat memosisikan diri sebagai pihak yang berhasil menghentikan pengaruh kuat Iran tersebut.
“Iran hancur berantakan. Mereka telah menjadi pengganggu di Timur Tengah selama 51 tahun, dan mereka bukan pengganggu lagi,” tutur Trump.
Pemerintah Amerika Serikat juga mengintai ketat setiap pergerakan fasilitas strategis di wilayah daratan Iran. Pengawasan intelijen tingkat tinggi terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi ancaman nuklir.
Trump bahkan menyuarakan ancaman serangan militer langsung ke fasilitas tertentu jika menemukan aktivitas mencurigakan. Gertakan ini ditujukan untuk menutup rapat peluang Iran mengembangkan senjata pemusnah massal.
“Kita tahu persis apa yang sedang terjadi … Saya menasihati Iran untuk tidak bertingkah lucu karena kita harus memukul mereka sangat keras. Kita tidak punya pilihan, bukan?” kata Trump. “Kita tidak bisa membiarkan Iran memiliki senjata nuklir. Ini sangat sederhana.”
Konfrontasi militer di Selat Hormuz memuncak setelah serangkaian gesekan armada laut kedua negara. Jalur perairan ini menampung hampir sepertiga dari total pasokan minyak mentah dunia lewat jalur laut.
Padahal kedua pihak sempat menandatangani memorandum bersama pada Juni lalu untuk mengurai ketegangan. Kesepakatan awal itu sebelumnya dirancang demi membuka kembali perairan strategis tersebut menuju jalan damai.
Namun ketegangan justru kembali membara seiring retorika agresif yang dilontarkan pihak Gedung Putih. Konflik terbuka ini mengancam stabilitas ekonomi global serta keamanan jalur pasokan energi dunia.