- PT STANIA dan Asahi Solder meneken MoU di Batam pada Jumat 11 September 2026.
- Kerja sama strategis tersebut bertujuan mengembangkan produk solder bernilai tambah tinggi serta memperluas akses pasar global.
- Kemitraan ini mengintegrasikan sumber daya alam domestik dengan manufaktur dan teknologi guna memperkuat rantai pasok elektronik.
Suara.com - Hilirisasi industri timah Indonesia memasuki tahap baru dengan pengembangan produk solder bernilai tambah tinggi.
Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat rantai pasok industri elektronik sekaligus membuka peluang Indonesia masuk lebih dalam ke pasar material teknologi global.
Upaya itu diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA), anak usaha PT Arsari Tambang, dengan Singapore Asahi Chemical & Solder Industries Pte. Ltd. (Asahi Solder) di pabrik STANIA, Batam, Jumat (11/9/2026).
MoU tersebut mengusung tema “Strengthening Indonesia’s Downstreaming Industry through Strategic Partnership”. Kerja sama mencakup pengembangan produk, penguatan teknologi dan kualitas, serta perluasan akses pasar.
STANIA merupakan bagian dari ekosistem hilirisasi timah PT Arsari Tambang yang terintegrasi mulai dari sektor pertambangan hingga produk hilir.
Pabrik di Batam tersebut diresmikan pada Juli 2025 dengan kapasitas awal mencapai 2.000 ton per tahun.
Saat ini, STANIA telah memproduksi solder bar dan mengembangkan produk solder dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Salah satu produk yang masuk dalam eksplorasi pengembangan melalui kemitraan tersebut adalah solder paste yang banyak digunakan dalam proses manufaktur elektronik.
Timah Indonesia Didorong Masuk Rantai Nilai Teknologi
Direktur Utama PT Arsari Tambang sekaligus Wakil Presiden Direktur Arsari Group, Aryo P. S. Djojohadikusumo, mengatakan kemitraan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengembangan produk solder.
Menurutnya, kerja sama ini merupakan bagian dari visi untuk membangun ekosistem industri yang menghubungkan sumber daya alam dengan manufaktur dan teknologi.
“Kerja sama hari ini bukan hanya tentang pengembangan produk solder, tetapi merupakan bagian dari upaya membangun rantai nilai yang menghubungkan sumber daya alam, material bernilai tambah, manufaktur, hingga teknologi masa depan.”
Aryo mengatakan Indonesia perlu mendorong timah agar tidak berhenti sebagai komoditas mentah.
Komoditas tersebut diharapkan dapat diolah menjadi material bernilai tambah sebelum masuk ke rantai industri manufaktur dan teknologi.
“Kami ingin melihat timah Indonesia terus bergerak naik dalam rantai nilai—dari komoditas menjadi material bernilai tambah, kemudian terhubung dengan industri electronic manufacturing dan pada akhirnya mendukung ekosistem teknologi dan AI yang sedang dibangun di Indonesia,” ujarnya.