-
Abah Setu viral akibat dugaan noda agama saat siaran langsung.
-
Kediaman pimpinan majelis dzikir di Bekasi sempat digeruduk massa warga.
-
Abah Setu minta maaf dan proses hukum tetap berjalan.
Suara.com - Jagat media sosial dan warga Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, baru-baru ini dihebohkan oleh sosok pimpinan majelis dzikir bernama Asep Setiawan alias Abah Setu.
Asep Setiawan alias Abah Setu mendadak trending dan memicu gelombang protes keras setelah video siaran langsung miliknya beredar luas dan dinilai menghina Nabi Muhammad SAW.
Hal ini lantas membuat publik penasaran dengan sosok Abah Setu dan kontroversinya.

Profil Abah Setu
Abah Setu dikenal sebagai pimpinan Majelis Dzikir Nurul Hikam sekaligus mursyid tarekat yang berlokasi di Desa Telajung, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.
Namanya terseret dalam pusaran kontroversi menyusul potongan video siaran langsung (live streaming) dari akun media sosial pribadinya.
Dalam rekaman tersebut, Abah Setu tampak berbincang dengan seseorang yang diduga jemaahnya.
Ia melontarkan pernyataan kontroversial mengenai Nabi Muhammad SAW yang dinilai masyarakat memuat unsur meragukan kenabian serta merendahkan Rasulullah SAW.
Dalam video itu, ia juga sempat menyebut pengikutnya "terjebak syariat".
Abah Setu Digeruduk Massa
Akibat video yang dianggap menodai agama dan menyulut kemarahan umat Islam tersebut, situasi di sekitar kediaman sekaligus lokasi majelis memanas.
Pada Senin malam (7/9/2026), gelombang massa warga mendatangi Majelis Dzikir Nurul Hikam untuk meminta klarifikasi langsung dari Abah Setu.
Aparat kepolisian dari Polres Metro Bekasi dan Polsek Cikarang Barat bergerak cepat mengamankan lokasi guna mencegah gesekan serta mengimbau warga agar tidak melakukan tindakan main hakim sendiri.
Saat dimintai keterangan oleh pihak kepolisian, Abah Setu sempat berdalih bahwa video yang beredar hanyalah potongan dari rekaman yang jauh lebih panjang.
Bahkan, ia sempat menduga bahwa video tersebut telah direkayasa atau diedit menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI).
Abah Setu Minta Maaf
Tekanan publik yang besar membuat pihak kepolisian bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi, tokoh agama, serta ormas Islam memfasilitasi forum mediasi di Mapolres Metro Bekasi pada Kamis (10/9/2026).
Dalam forum mediasi tersebut, Abah Setu akhirnya secara terbuka mengakui kekeliruannya dan menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh umat Islam.
Selain meminta maaf, ia juga berjanji untuk menghentikan seluruh aktivitas pengajian, pembuatan konten, maupun kegiatan di majelisnya yang berpotensi menyesatkan atau menyinggung syiar Islam.
Imbas dari kasus ini, Majelis Dzikir Nurul Hikam pun diputuskan untuk ditutup total dari kegiatan keagamaan.
Kendati permohonan maaf telah disampaikan dan pihak MUI serta masyarakat telah memaafkan secara sosial, kepolisian memastikan bahwa proses hukum atas dugaan penistaan agama ini akan tetap berjalan sesuai prosedur yang berlaku.