- Satgas Sespimti Polri Angkatan 36 memetakan wilayah rawan karhutla di Samboja Barat.
- Pemetaan bertujuan mencegah ancaman kebakaran lahan gambut dan perkebunan secara terarah saat musim kemarau.
- Upaya penanganan melibatkan koordinasi lintas instansi serta edukasi kepada masyarakat terkait bahaya membakar lahan.
Suara.com - Satgas Edukasi Karhutla Sespimti Polri Angkatan 36 melakukan pemetaan terhadap wilayah yang menjadi titik rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Samboja Barat, Kalimantan Timur.
Pemetaan dilakukan sebagai langkah awal untuk menentukan upaya pencegahan dan penanganan karhutla secara lebih terarah, terutama menghadapi meningkatnya ancaman kebakaran saat musim kemarau.
Ketua Senat Serdik Sespimti Polri Angkatan 36, Kombes Dony Alexander, mengatakan kawasan hutan, perkebunan, dan lahan gambut yang luas menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko karhutla.
“Setiap memasuki musim kemarau, kata dia, ancaman karhutla senantiasa meningkat terutama di wilayah yang memiliki kawasan hutan, perkebunan, dan lahan gambut luas, seperti kondisi di Kecamatan Samboja Barat,” kata Dony dikutip Sabtu (12/9/2026).
![Ketua Senat Serdik Sespimti Polri Angkatan 36, Kombes Dony Alexander. [Dok.Polri]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/12/46147-dony-alexander.jpg)
Dony mengatakan pemetaan titik rawan menjadi bagian dari langkah antisipasi agar pencegahan tidak dilakukan secara umum, tetapi dapat menyasar wilayah yang memiliki risiko lebih tinggi.
Satgas juga merumuskan sejumlah langkah operasional, mulai dari penguatan sistem deteksi dini, patroli terpadu hingga edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya membuka lahan dengan cara membakar.
“Kami menyadari bahwa keberhasilan pencegahan karhutla sangat bergantung pada kesiapsiagaan dini, deteksi yang cepat, serta respons yang terkoordinasi dengan baik dari semua pihak,” katanya.
Menurut Dony, penanganan karhutla membutuhkan koordinasi antara pemerintah kecamatan dan desa, TNI-Polri, instansi lingkungan hidup dan kehutanan, dunia usaha, akademisi, serta tokoh masyarakat dan adat.
Satgas juga menghimpun masukan dan rekomendasi dari berbagai pihak sebagai bahan penyusunan program edukasi serta rencana aksi pencegahan karhutla di Samboja Barat.