- Gen Z Impact Fest 2026 mengangkat isu gaya hidup berkelanjutan.
- Tiga pembicara membahas lingkungan dari sisi hasil alam, kearifan lokal, dan sampah.
- Gen Z diajak memulai perubahan dari kebiasaan sederhana.
"Kalau petani mesti mengerjakan angka mikroba, angka risiko kimia, enggak mungkin. Ini butuh orang-orang yang punya ilmu," ungkapnya.
Ia menilai persoalannya bukan karena Indonesia kekurangan sumber daya alam, melainkan masih terbatasnya pengolahan di tingkat desa dan tenaga yang memiliki keahlian untuk mengerjakannya.
"Indonesia memang kaya, kaya sekali. Cuma ketika sudah harus mengolah sesuai standar itu kebingungan," lanjut Asri.
Agradaya kemudian bermitra dengan kelompok tani di sejumlah daerah dan memberikan pelatihan, termasuk mengenai proses pengeringan. Menurut Asri, teknologi sederhana tersebut dapat membantu meningkatkan kualitas sekaligus nilai jual hasil pertanian.
Salah satu contohnya adalah kemiri dari Nusa Tenggara Timur. Asri menyebut Agradaya telah membuat area produksi di daerah tersebut dan mengolah kemiri bersama masyarakat setempat.
"Paling besar itu ke Arab Saudi. Setiap tahun kita mengirim 2 kontainer kemiri," paparnya.
Satu kontainer, lanjut Asri, dapat memuat sekitar 21 ton kemiri. Ia menilai pengolahan tersebut merupakan bagian dari upaya hilirisasi hasil hutan bukan kayu yang selama ini belum banyak digarap secara optimal.
Menurut Asri, hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan sektor pertambangan. Rempah-rempah dan hasil hutan bukan kayu juga memiliki peluang besar untuk diolah di Indonesia.
"Jadi hilirisasi itu enggak melulu tentang tambang, enggak melulu tentang ikan," kata Asri.
Ia mencontohkan kemukus yang banyak dihasilkan di Jawa dan kini memiliki pasar di Prancis. Menurutnya, komoditas yang menjadi kekhasan Indonesia tersebut masih memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh.
Asri juga memberikan gambaran mengenai nilai tambah yang dapat dihasilkan dari proses pengolahan sederhana. Ia mencontohkan kunyit yang ketika masih basah bernilai sekitar Rp7.000 per kilogram, tetapi setelah dikeringkan dapat mencapai Rp70.000 hingga Rp80.000 per kilogram di Agradaya.
Perbedaan tersebut, menurut Asri, menunjukkan bahwa proses pengolahan di tingkat desa dapat memberikan dampak ekonomi yang cukup besar.
Bagi Asri, keberlanjutan juga perlu dilihat dari cara masyarakat memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Hasil hutan bukan kayu, misalnya, dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa harus menghabiskan hutannya.
"Kalau teman-teman masih bingung sustainability itu apa, bayangin kalau hidup di masa depan semua hutannya diambil," kata Asri.
Menurutnya, pemanfaatan hasil hutan yang tetap menjaga keberadaannya dapat menjadi salah satu cara untuk melihat keberlanjutan secara lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Edi Padmo Ajak Gen Z Kembali pada Kearifan Lokal untuk Jaga Lingkungan
Pembicara berikutnya, Edi Padmo dari Resan Gunung Kidul, mengajak generasi muda melihat persoalan lingkungan tidak hanya melalui pengetahuan modern, tetapi juga dari kearifan lokal yang telah diwariskan masyarakat.
Edi memperkenalkan Resan sebagai komunitas yang bergerak dalam isu lingkungan di Gunung Kidul. Menurutnya, istilah "resan" berasal dari kata rekso yang berarti menjaga, sementara pohon menjadi salah satu simbol penting dalam konsep tersebut.
"Resan itu bahasa Jawa, rekso artinya penjaga. Pohon penjaga," jelas Edi.
Ia mengatakan, istilah resan merujuk pada pohon besar yang dipercaya memiliki fungsi untuk menjaga berbagai unsur lingkungan, mulai dari air, tanah, hingga udara. Nilai tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
"Konservasi lingkungan ini menjadi tanggung jawab bersama yang harus dilakukan secara jamak," ujarnya.
Menurut Edi, masyarakat modern justru sering terjebak dalam paradigma yang membuat kearifan lokal dianggap tidak relevan. Padahal, sejumlah tradisi yang berkaitan dengan alam memiliki nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan saat ini.
Ia mencontohkan berbagai bentuk penghormatan terhadap pohon yang kerap dianggap sebagai sesuatu yang kuno atau bahkan bertentangan dengan keyakinan tertentu.
"Kita harus membuka pikiran bahwa bakar dupa, memberi sesaji, memberi kain putih pada pohon, dan itu ada artinya. Itu adalah teknologi," kata Edi.
Menurutnya, cara pandang terhadap kearifan lokal perlu dibuka kembali agar masyarakat tidak selalu mencari standar pengetahuan dari luar dan meninggalkan nilai-nilai yang sudah berkembang di lingkungan sendiri.
Edi juga menilai persoalan lingkungan saat ini semakin mendesak. Kerusakan alam yang berlangsung cepat menunjukkan bahwa masyarakat perlu membangun kesadaran terhadap lingkungan sebelum menentukan aksi yang ingin dilakukan.
"Kalau saya harus bicara soal apa yang harus dilakukan oleh kita, terutama Gen Z, kita harus membangun kesadaran. Itu yang paling mendasar," tegasnya.
Ia mengajak generasi muda untuk lebih terbuka mempelajari lingkungan di sekitar, termasuk dengan kembali berinteraksi langsung dengan alam. Menurut Edi, kegelisahan terhadap persoalan seperti kebakaran hutan, masalah sampah, hingga ancaman krisis air dan pangan dapat menjadi awal untuk membangun kepedulian.
"Kegelisahan teman-teman punya kenapa kebakaran hutan Kalimantan, sampah Jogja darurat sampah, terus 2040 itu krisis air dunia, krisis pangan. Ada kegelisahan-kegelisahan itu," tuturnya.
Dari kesadaran tersebut, Edi mendorong Gen Z untuk melakukan aksi sederhana yang dapat dimulai dari diri sendiri. Ia menilai gerakan lingkungan tidak selalu membutuhkan biaya besar, organisasi besar, maupun program berskala luas.
"Suatu hal yang besar itu dimulai dari suatu hal yang kecil, dari diri sendiri," ujarnya.
Edi kemudian memberikan contoh sederhana bagi anak muda yang gemar mendaki gunung. Mereka dapat membawa bibit pohon untuk ditanam setelah berkoordinasi dengan pihak yang menjaga kawasan, sekaligus membawa kantong sampah untuk mengangkut sampah ketika turun.
"Berangkat itu bawa bibit pohon, terus koordinasi sama penjaganya. Terus nanam pohon satu. Terus naik ke atas bawa trash bag. Turun bawa sampah," katanya.
Menurut Edi, aksi seperti itu tidak membutuhkan modal besar, melainkan kemauan untuk terlibat. Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak memandang isu lingkungan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka.
"Kalau teman-teman masih kos di Jogja, lingkungan hidupnya adalah lingkungan kos, lingkungan asrama, lingkungan kampus," ujarnya.
Edi juga mengajak anak muda yang telah memiliki pengetahuan untuk membawanya kembali ke daerah asal dan ikut memikirkan persoalan lingkungan di sana.
"Kalau ilmunya sudah cukup, jangan ke Jogja terus, pulanglah," katanya.
Ia menutup pembahasannya dengan mengingatkan bahwa lingkungan yang dinikmati generasi sekarang merupakan warisan dari orang-orang sebelumnya. Oleh sebab itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk merawatnya agar tetap dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.

Fransisca Ajak Gen Z Ubah Mindset dan Kebiasaan dalam Mengelola Sampah
Pembicara terakhir, Program Manager Yayasan Get Plastic Indonesia Fransisca Supriyani Wulandari, menyoroti persoalan sampah plastik yang tidak hanya berdampak pada lingkungan daratan, tetapi juga merembet hingga ke wilayah perairan dan kehidupan masyarakat pesisir.
Dalam pemaparannya, Fransisca menunjukkan sejumlah gambaran mengenai sampah plastik di laut, termasuk plastik yang mencemari pantai serta sampah yang ditemukan di dalam tubuh satwa. Ia menjelaskan bahwa sebagian sampah tersebut berasal dari daratan yang kemudian bocor ke perairan.
"Jadi sampah daratan ketika sudah bocor ke perairan itu akan berdampak ke makhluk hidup lain yang ada di laut lepas," jelas Fransisca.
Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan erat dengan cara masyarakat mengelola sampah sejak dari sumbernya. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah kebiasaan memilah sampah yang belum dilakukan secara luas.
Fransisca menilai persoalan sampah pada dasarnya juga berkaitan dengan cara pandang seseorang terhadap barang sisa konsumsi.
"Sampah itu sebenarnya adalah masalah mindset," ujarnya.
Menurut Fransisca, ketika suatu barang langsung dianggap sebagai sampah, barang tersebut akan berakhir di tempat pembuangan. Sebaliknya, barang yang masih memiliki potensi untuk diproses kembali dapat dipisahkan dan dikelola sejak dari rumah.
"Sebenarnya yang masuk ke TPA tadi itu sebenarnya cuma residu aja," katanya.
Selain kebiasaan memilah, Fransisca juga menyoroti masih tingginya penggunaan plastik sekali pakai serta kebiasaan membakar sampah secara mandiri. Keterbatasan fasilitas pemilahan dan informasi mengenai jenis sampah juga menjadi tantangan dalam pengelolaan sampah di tingkat masyarakat.
Persoalan tersebut, menurutnya, tidak hanya terjadi di rumah tangga. Industri juga menghadapi tantangan berupa produksi limbah plastik dalam jumlah besar serta keterbatasan teknologi pengolahan.
Fransisca kemudian menjelaskan peran Yayasan Get Plastic Indonesia yang melakukan riset dan pengembangan teknologi untuk mengolah sampah plastik. Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah pirolisis, yakni proses menggunakan panas untuk memecah material plastik tanpa oksigen sehingga menghasilkan sejumlah produk turunan, termasuk bahan bakar.
Namun, ia menegaskan bahwa bahan bakar yang dihasilkan bukanlah tujuan utama dari pengolahan tersebut.
"BBM yang dihasilkan itu menurut kami hanyalah bonus," ujar Fransisca.
Menurutnya, fokus utama tetap pada upaya mengurangi sampah plastik yang berpotensi mencemari lingkungan. Get Plastic Indonesia juga memiliki ruang edukasi melalui Get Plastic Learning Center di Yogyakarta dan Bali untuk memperkenalkan pengelolaan sampah kepada masyarakat.
"Kita coba mengubah mindset masyarakat, jadi kita harus fokus di edukasinya. Kita mengajak setiap orang untuk bertanggung jawab dengan sampah sendiri," jelasnya.
Fransisca kemudian mengajak generasi muda mengambil peran dari hal yang paling dekat dengan kehidupan mereka. Menurutnya, perubahan tidak harus dimulai melalui gerakan besar, tetapi dapat dilakukan dengan mengubah kebiasaan sehari-hari.
"Yang pertama mengubah kebiasaan mulai dari diri kita sendiri, enggak usah terlalu fokus ke orang lain," kata Fransisca.
Ia memperkenalkan 3 langkah sederhana yang dapat diterapkan generasi muda, yakni cegah, pilah, dan olah. Langkah tersebut dapat dimulai dengan mengurangi timbulan sampah, memilah sampah berdasarkan jenisnya, kemudian mengolah atau menyalurkannya agar dapat dimanfaatkan kembali.
Selain dari kebiasaan pribadi, Fransisca mendorong Gen Z untuk menjadi penggerak di lingkungan kampus, tempat kerja, maupun komunitas. Media sosial juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan kampanye mengenai pengelolaan sampah.
Ia juga mengajak generasi muda lebih aktif mengawasi tata kelola sampah dalam berbagai kegiatan, termasuk acara atau festival.
"Jadi agen pembawa perubahan, bukan lagi sebagai petugas kebersihan," tegasnya.
Menurut Fransisca, peran anak muda dalam isu lingkungan tidak berhenti pada kegiatan membersihkan sungai atau memungut sampah. Mereka juga perlu mengambil peran sebagai edukator yang dapat mendorong perubahan kebiasaan di lingkungan masing-masing.
Sebagai informasi, Gen Z Impact Fest 2026 merupakan ruang kolaborasi dan pembelajaran bagi generasi muda untuk memperluas wawasan, mengembangkan kapasitas diri, serta menemukan berbagai peluang di tengah perubahan dunia kerja, ekonomi digital, dan tantangan lingkungan.
Mengusung semangat "Empowering the Next Generation", festival ini menghadirkan rangkaian diskusi, talkshow, creator showcase, hiburan, dan sesi inspiratif yang membahas isu-isu dekat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari finansial, karier, lingkungan, keamanan digital, hingga dunia kreator.
Selain menghadirkan sesi edukasi, festival ini juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan karya dan gagasan melalui sejumlah kompetisi melalui Impact Content Competition.
Gen Z Impact Fest 2026 diinisiasi oleh Suara.com, SKM Bulaksumur, dan Kagama Persma. Pelaksanaan acara ini mendapat dukungan collaborator dari International Media Support (IMS) dan Swedish International Development Cooperation Agency (Sida). Program ini juga didukung oleh sponsor Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Kayong Aluminium Nusantara, dan Astra.
Dukungan terhadap pelaksanaan Gen Z Impact Fest 2026 turut datang dari berbagai supporting partners, yaitu Majika, Wondermis, ParagonCorp, Frisian Flag, Kino Indonesia, Dekayu, Bank Jago, Aviroam, Eventmerch, It’s Love Pastry & Bakery, Speakers Academy, Mydervia, Psikopersada Khatulistiwa, dan Kemuning Java.
Sementara itu, penyebarluasan informasi dan pesan Gen Z Impact Fest 2026 turut didukung oleh media partners CelebrityInk.com, Bantul Mantul, Mojok, dan The Tribes.