- Jenderal TNI Maruli Simanjuntak terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PB PJSI periode 2026–2030 di Jakarta pada Jumat, 11 September 2026.
- Di bawah kepemimpinan sebelumnya, judo Indonesia sukses meloloskan atlet ke Olimpiade Paris 2024 serta meningkatkan prestasi di SEA Games.
- Maruli menghadapi tantangan baru untuk meningkatkan prestasi judo Indonesia agar mampu meraih kemenangan di panggung Olimpiade dunia.
Suara.com - Ada satu kisah lama yang kembali menarik perhatian di balik terpilihnya Jenderal TNI Maruli Simanjuntak sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PB PJSI) periode 2026–2030.
Puluhan tahun lalu, ketika masih menjadi perwira muda Kopassus, Maruli pernah dijanjikan akan digendong atasannya, Prabowo Subianto, jika berhasil menjadi juara judo Asia Tenggara. Janji itu kemudian benar-benar terlaksana.
Kini situasinya berbalik. Maruli bukan lagi atlet muda yang mengejar medali untuk dirinya sendiri. Sebagai Ketua Umum PB PJSI sekaligus Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), ia menghadapi tantangan membawa judo Indonesia melangkah lebih jauh setelah cabang olahraga tersebut kembali menembus Olimpiade.
Maruli kembali dipercaya memimpin PB PJSI secara aklamasi dalam Munas XX PJSI di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (11/9/2026). Munas tersebut diikuti perwakilan 27 Pengprov dan sebelumnya menerima laporan pertanggungjawaban kepengurusan Maruli periode 2021–2026.
Jurnalis senior Egy Massadiah menilai perjalanan Maruli di dunia judo memang bukan cerita tentang seorang jenderal yang baru mengenal tatami setelah menduduki posisi penting.
Jauh sebelum menjadi KSAD, Maruli sudah lama bergelut dengan judo. Pada Pangab Cup 1994, ia meraih emas kelas 70 kilogram dan perak kelas bebas. Saat menjadi Dantim Yon 12 Grup 1 Kopassus dengan pangkat Lettu Inf, Maruli juga menjuarai Kejuaraan Judo Militer ASEAN di Filipina kelas 71 kilogram dan dinobatkan sebagai atlet terbaik.
Dalam perjalanan itulah muncul kisah dengan Prabowo yang saat itu menjadi atasannya di Kopassus.
Prabowo pernah menjanjikan akan menggendong Maruli apabila perwira muda tersebut berhasil menjadi juara judo Asia Tenggara. Maruli kemudian menang dan Prabowo menepati janjinya.
Menurut Egy, kisah tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan Maruli karena posisi sang judoka kini berubah.
"Maruli pernah merasakan dibanting. Pernah membanting. Pernah menjadi juara. Pernah pula digendong Prabowo karena kemenangan itu. Kini sejarah membalik posisinya," kata Egy dalam pernyataannya, Minggu (13/9/2026).
Di bawah kepemimpinan Maruli pada periode 2021–2026, judo Indonesia kembali tampil di Olimpiade setelah absen sejak London 2012.
Maryam March Maharani lolos ke Olimpiade Paris 2024 melalui kuota kontinental Asia di kelas -52 kilogram. Di Paris, Maharani bahkan dipercaya menjadi pembawa bendera Merah Putih pada upacara pembukaan.
Menurut Egy, performa judo Indonesia juga semakim menunjukkan peningkatan di level Asia Tenggara.
Pada SEA Games Kamboja 2023, Indonesia meraih satu emas dan lima perunggu. Kemudian pada Southeast Asia Judo Championships 2024 di Bali, Indonesia menjadi runner-up dengan sembilan emas, 14 perak dan 24 perunggu.
Hasil lebih tinggi dicapai pada SEA Games Thailand 2025. Dari target dua emas, judo Indonesia justru membawa pulang empat emas, dua perak dan satu perunggu serta menempati posisi kedua cabang judo.
Pembinaan di dalam negeri pun diperbesar. Kasad Cup XV 2024 diikuti lebih dari 700 peserta, sedangkan Kejurnas Judo Piala Kasad XVI 2026 diikuti 1.424 atlet, menjadi rekor peserta sepanjang penyelenggaraan kejuaraan tersebut.
Namun, capaian itu sekaligus membuat tantangan Maruli pada periode keduanya menjadi lebih berat.
Menurut Egy, setelah Indonesia berhasil kembali ke Olimpiade, ukuran keberhasilan berikutnya tidak lagi berhenti pada kehadiran atlet di pesta olahraga terbesar dunia.
"Setelah kembali ke Olimpiade, tantangannya sekarang bukan lagi sekadar hadir di Olimpiade. Indonesia harus mulai bermimpi menang di sana," ujarnya.
Tantangan tersebut mencakup regenerasi atlet, peningkatan kualitas pelatih, sports science, jam terbang internasional hingga kesempatan bertanding di negara-negara dengan tradisi judo kuat.
Maruli juga disebut telah menjajaki kerja sama latihan dengan negara-negara kuat judo Asia seperti Kazakhstan dan Uzbekistan.
Pada akhirnya, periode kedua Maruli di PB PJSI bukan lagi sekadar soal mempertahankan capaian yang sudah diraih. Ada target yang lebih tinggi setelah judo Indonesia berhasil menemukan kembali jalannya ke panggung Olimpiade.
"Dahulu seorang komandan menggendong Maruli yang baru menjadi juara. Hari ini, sebagai Kasad dan Ketua Umum PB PJSI, justru Maruli yang harus menggendong mimpi ribuan judoka Indonesia menuju podium dunia," pungkas Egy.