-
Amazon memutuskan penghentian sementara operasional kargo bersama maskapai 21 Air pascakecelakaan fatal Miami.
-
Investigasi NTSB menunjukkan indikasi pesawat Boeing 767 mendarat dengan kecepatan terlalu tinggi.
-
Kecelakaan pesawat kargo yang melintasi landasan pacu ini menewaskan lima orang di lokasi kejadian.
Suara.com - Amazon mengambil tindakan tegas dengan membekukan seluruh kegiatan operasional pesawat kargo 21 Air. Keputusan bisnis ini diambil menyusul tragedi jatuhnya pesawat kargo penerbangan 7598 di Miami yang merenggut 5 korban jiwa.
Raksasa e-commerce global ini memilih penghentian sementara sebagai langkah responsif atas insiden maut tersebut. Pihak manajemen berfokus memberikan bantuan penuh dalam penanganan pascamusibah.
"Setelah insiden tragis akhir pekan lalu, kami menghabiskan waktu untuk mendukung penyelidikan dan meninjau beberapa keadaan di sekitarnya, dan kami telah memutuskan untuk menghentikan operasi kami dengan 21 Air, operator Penerbangan 7598," kata juru bicara Amazon, Kelly Nantel, dalam sebuah pernyataan kepada Reuters.
![Logo Amazon. [Unsplash/Christian Wiediger]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/02/04/49364-logo-amazon.jpg)
"Kami akan terus bekerja untuk mendukung penyelidikan dan semua orang yang terdampak."
Kecelakaan fatal melanda armada kargo 21 Air saat memfasilitasi jaringan logistik Amazon Air di Bandara Internasional Miami. Pesawat pengangkut barang tersebut meluncur melebihi batas landasan pacu hingga menghantam sejumlah kendaraan darat.
Tim Komite Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) menemukan indikasi bahwa kru pesawat sempat berencana membatalkan pendaratan. Rekaman data penerbangan memperlihatkan opsi mel Mel Melakukan go-around muncul tepat setelah roda pesawat menyentuh landasan.
Percakapan di ruang kokpit mengungkap adanya peringatan bahaya sebelum pesawat mendarat mendadak. Salah satu pilot sempat memperingatkan rekannya mengenai kelajuan armada yang terlampau tinggi.
"Terlalu cepat," ujar pilot tersebut sekitar satu menit sebelum pesawat mengalami kegagalan pendaratan di landasan pacu.
Armada berjenis Boeing 767-300 freighter ini tergolong pesawat tua berumur 32 tahun. Sebelum beralih fungsi menjadi angkutan kargo, jet ini melayani rute komersial penumpang sejak 1994 hingga 2015.
Jadwal penerbangan maskapai pada hari kejadian terhitung sangat padat. Pesawat nahas ini sedang menyelesaikan rute ketiga dalam sehari dari San Juan, Puerto Rico, setelah sebelumnya melayani rute Cincinnati-Miami.
Pihak operator 21 Air menyatakan komitmen penuh untuk mendampingi keluarga para korban yang kehilangan nyawa. Manajemen mengklaim telah menerapkan standar operasional penerbangan secara ketat dan profesional.
"Kami tetap fokus untuk mendukung keluarga dan orang-orang terkasih yang terdampak oleh kecelakaan ini, serta bekerja sama secara erat dengan NTSB dan semua mitra kami, seperti Amazon, seiring berlanjutnya penyelidikan. Kami yakin dengan kebijakan keselamatan, prosedur, dan pelatihan kami," kata 21 Air dalam sebuah pernyataan kepada Reuters.
Peristiwa ini menambah daftar panjang evaluasi keamanan armada udara kargo berusia tua di wilayah Amerika Serikat. Otoritas penerbangan kini memperketat pengawasan terhadap seluruh prosedur operasional penerbangan logistik di Bandara Internasional Miami.
Investigasi mendalam oleh NTSB masih terus berjalan guna mengungkap penyebab pasti kegagalan pendaratan. Hasil analisis kotak hitam diperkirakan akan menjadi rujukan utama penentuan sanksi maupun perbaikan regulasi penerbangan kargo mendatang.