-
Indeks PSI di pusat Singapura melonjak ke angka 102, masuk kategori tidak sehat.
-
Kebakaran hutan di Sumatra Selatan dan Kalimantan menjadi pemicu utama datangnya asap.
-
NEA terus memantau dan mengeluarkan imbauan harian untuk mengantisipasi risiko kabut asap.
Suara.com - Kualitas udara di kawasan pusat Singapura resmi kembali menembus level tidak sehat pada Senin (14/9) siang. Lonjakan ini mengakhiri tren pemulihan kualitas udara yang sempat bertahan stabil selama 4 hari terakhir.
Tercatat pada pukul 12.00 waktu setempat, angka 24-hour Pollutant Standards Index (PSI) di wilayah tengah melonjak hingga menyentuh 102. Sementara itu, empat wilayah geografis lainnya masih menunjukkan skala pemantauan yang bervariasi antara 79 hingga 91.
Pergerakan angka PSI ini mempertegas ancaman krisis udara lintas batas yang kembali mengintai kawasan perkotaan Singapura. Paparan partikel terpolusi kini mulai membelah tingkat kenyamanan aktivitas warga di area pusat bisnis dan sekitarnya.

Penurunan level udara segar ini memutus periode aman berdurasi empat hari yang sebelumnya mencatatkan angka PSI sedang. Dikutip dari CNA, perubahan drastis tersebut didorong oleh tingginya intensitas sebaran titik panas di wilayah tetangga.
Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA) mengonfirmasi bahwa kepulan asap pekat masih terus terdeteksi dari titik kebakaran di Sumatra bagian selatan dan Kalimantan. Pantauan citra satelit menunjukkan bahaya laten yang sewaktu-waktu dapat bergeser menutupi ruang udara Singapura.
Meskipun hujan curah sedang diproyeksikan mengguyur Sumatra bagian tengah dan utara, kondisi kering ekstrem diprediksi tetap melanda Kalimantan serta Sumatra bagian selatan. Ketimpangan cuaca ini memperbesar risiko jatuhnya asap ke wilayah Singapura apabila titik api tidak segera padam.
Pihak otoritas memproyeksikan bahwa rentang 24-hour PSI untuk seluruh wilayah Singapura akan berada pada kisaran sedang hingga batas bawah level tidak sehat. Warga diminta tetap waspada terhadap pergerakan kualitas udara harian.
Lonjakan kualitas udara ke kategori tidak sehat di wilayah tengah Singapura ini merupakan kejadian berulang setelah insiden serupa pada 4 September lalu. Peristiwa awal September tersebut menjadi titik balik pertama kalinya udara Singapura masuk kategori tidak sehat sejak 2023.
Sebagai langkah antisipasi krisis, NEA secara resmi mengaktifkan kembali layanan informasi dan imbauan harian terkait kabut asap sejak malam pertama lonjakan terjadi. Skema pemantauan diperketat guna memitigasi dampak kesehatan masyarakat.
Dalam sistem pengukuran standar setempat, rentang PSI antara 101 hingga 200 dikategorikan sebagai "tidak sehat". Adapun skala 201 hingga 300 masuk taraf "sangat tidak sehat", dan angka di atas 300 ditetapkan sebagai kondisi "berbahaya".