- 30 ribu bayi dan 4.000 ibu meninggal setiap tahun di Indonesia.
- Pernyataan tersebut disampaikan Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI.
- Kemenkes akan mengevaluasi serta mendampingi rumah sakit di Jawa Barat yang mencatat angka kematian tertinggi akibat infeksi.
Suara.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkap sekitar 30 ribu bayi dan 4.000 ibu meninggal setiap tahun di Indonesia. Jawa Barat menjadi salah satu wilayah dengan angka kematian ibu dan bayi tertinggi.
Hal itu disampaikan Budi dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (14/9/2026).
"Kalau kita akan mulai misalnya dengan ibu dan bayi. Ini kan kematian bayi kan 30.000 setahun. Ibu meninggal itu 4.000 setahun. Kita di ASEAN itu termasuk yang jelek posisinya," ungkap Budi.
Budi mengatakan Jawa Barat menjadi salah satu wilayah dengan angka kematian ibu dan bayi yang tinggi. Bahkan, kasus tersebut banyak terjadi di rumah sakit paripurna.
"Jawa Barat itu termasuk yang paling tinggi angkanya, dan itu terjadi di rumah sakit paripurna," tuturnya.
Menurut Budi, terdapat tiga kota dan tiga kabupaten di Jawa Barat yang mencatat angka kematian ibu dan bayi tinggi.
Ia mengatakan salah satu persoalan yang ditemukan berkaitan dengan infeksi akibat buruknya pengelolaan kebersihan rumah sakit.
"Ada kabupaten yang ini, dan kita lihat rumah sakitnya kenapa meninggal? Karena banyak infeksi. Jadi cara mereka menata apa... kebersihan rumah sakitnya itu enggak bagus. Nah, itu yang sekarang sedang kita perbaiki," katanya.
Budi menilai kematian pasien akibat pendarahan berbeda dengan pasien yang kemudian mengalami infeksi selama menjalani perawatan di rumah sakit.
"Kalau ternyata meninggalnya karena pendarahan aku enggak apa-apa, tapi meninggalnya kemudian dia masuk, pendarahan, terus ya 3 hari 4 hari kemudian infeksi dan meninggal, itu udah pasti manajemen infeksinya tidak bagus," tambahnya.
Untuk memperbaiki kondisi tersebut, Kemenkes akan mengevaluasi rumah sakit yang memiliki angka kematian ibu dan bayi tinggi. Rumah sakit tersebut akan didampingi untuk memperbaiki sejumlah indikator pelayanan.
"Kita akan masukkan indikator-indikator seperti tadi. Nah misalnya indikator mengenai antimicrobial resistance, nah itu kan ada indikatornya. Kita ukurnya benar-benar seperti itu, dan ini bisa dirubah ya. Bisa bisa berkembang tergantung juga yang kita mau ukur outcomenya apa," pungkasnya.