-
Sebanyak 38 wilayah di Malaysia mencatat tingkat kualitas udara pada kategori tidak sehat.
-
Serian di Sarawak menjadi daerah terdampak kabut asap terparah dengan skor API 188.
-
Kebakaran hutan dan kabut asap lintas batas menjadi pemicu utama pemburukan polusi udara.
Suara.com - Krisis pencemaran udara kembali melumpuhkan aktivitas warga Malaysia setelah 38 wilayah secara serentak mencatat tingkat kualitas udara yang sangat tidak sehat pada Selasa (15/9) pagi, akibat asap kebakaran hutan Kalimantan. Paparannya merata dari wilayah Sarawak hingga kawasan padat penduduk di Lembah Klang dan Johor.
Sebanyak 38 titik pemantauan lingkungan menunjukkan angka Indeks Pencemaran Udara (API) yang menembus ambang batas aman di berbagai negeri. Kondisi tersebut mempertegas ancaman nyata dari paparan kabut asap lintas batas yang terus memburuk dalam beberapa pekan terakhir.
Kawasan Serian di Sarawak menjadi lokasi dengan kondisi terparah di seluruh negeri setelah mencatat skor API mencapai 188 pada pukul 08.45 waktu setempat. Dikutip dari CNA, wilayah yang berbatasan langsung dengan Indonesia ini kembali menduduki posisi puncak daerah paling tercemar.
Tepat di bawah Serian, pemukiman Johan Setia di Selangor mengekor dengan tingkat pencemaran udara menduduki angka 183. Sementara itu, Negeri Johor menjadi provinsi dengan sebaran daerah terdampak udara tidak sehat terbanyak di Malaysia.
Kawasan industri Pasir Gudang mencatat skor 172, diikuti Larkin sebesar 169 dan Tangkak pada angka 166. Kawasan pusat pemerintahan dan ekonomi di Lembah Klang juga tidak luput dari gumpalan asap pekat.
Wilayah Cheras di Kuala Lumpur menyentuh angka 170, Shah Alam mencatat 167, sedangkan Putrajaya berada di tingkat 165.
Kenaikan konsentrasi polutan udara meluas ke wilayah lain seperti Nilai di Negeri Sembilan dengan angka 167 dan Samarahan di Sarawak sebesar 163.
Pemerintah Malaysia menetapkan rentang API 0 sampai 50 sebagai kategori baik, sedangkan 51 hingga 100 tergolong sedang.
Adapun kategori tidak sehat berada di rentang 101 hingga 200, sangat tidak sehat pada 201 sampai 300, dan di atas 300 sudah berbahaya.
Dua pekan sebelum lonjakan polusi ini terjadi, Serian sempat menetapkan status tanggap darurat akibat krisis udara ekstrem.
Langkah darurat itu diambil pada 4 September lalu ketika skor API di wilayah tersebut melonjak drastis melampaui angka 500.
Status darurat bencana tersebut baru dicabut tiga hari kemudian setelah tingkat pencemaran mulai turun dari level berbahaya.
Namun, tren penurunan tersebut tidak bertahan lama seiring kembali melonjaknya angka polusi pekan ini.
Kawasan Sarawak dan wilayah perbatasan Kalimantan terus menjadi daerah yang paling rentan terpapar dampak kebakaran hutan regional.
Fenomena transboundary haze atau kabut asap lintas batas berkali-kali memperburuk krisis pernapasan warga di wilayah perbatasan tersebut.