Beras Fortifikasi Palsu Marak, Pakar Soroti Kecurangan Rantai Pasok Ancam Keberhasilan Program Gizi

Dwi Bowo Raharjo, Hiskia Andika Weadcaksana

Sabtu, 19 September 2026 | 18:28 WIB
Beras Fortifikasi Palsu Marak, Pakar Soroti Kecurangan Rantai Pasok Ancam Keberhasilan Program Gizi
Ilustrasi beras fortifikasi [Magnific]
baca 10 detik
  • Guru Besar UGM menyoroti maraknya beras fortifikasi palsu yang menghambat pemenuhan gizi masyarakat pada Sabtu (19/9/2026).
  • Kecurangan dalam rantai pasok membuat konsumen tertipu karena mengonsumsi produk yang tidak sesuai standar kandungan gizi sebenarnya.
  • Pemalsuan tersebut berpotensi merusak kepercayaan konsumen dan merugikan produsen jujur yang memproduksi beras fortifikasi asli.

Suara.com - Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Raharjo, menyoroti maraknya temuan beras fortifikasi palsu belakangan ini.

Ia menilai pemalsuan tersebut berpotensi mengganggu tujuan program fortifikasi sebagai salah satu intervensi pemenuhan gizi masyarakat.

Menurut Sri, program fortifikasi pada dasarnya telah memiliki regulasi dan standar yang mengatur kandungan maupun prosesnya.

Persoalan justru muncul ketika terjadi kecurangan dalam rantai pasok, mulai dari produksi hingga produk tersebut beredar dan dibeli konsumen.

"Kalau dengan adanya diketemukannya dugaan pemalsuan ini, kan ini bisa membuat program tadi terhalang, artinya tidak bisa efektif mencapai tujuannya bukan karena regulasinya atau standarnya yang tidak ada, standarnya ada," kata Sri kepada Suara.com, Sabtu (19/9/2026).

Dijelaskan Sri, program tersebut salah satunya ditujukan untuk membantu intervensi gizi kelompok masyarakat tertentu, termasuk ibu hamil dan ibu menyusui.

Oleh sebab itu, beras yang dipasarkan sebagai produk fortifikasi seharusnya benar-benar memberikan kandungan gizi sesuai dengan yang dijanjikan.

Ia menilai persoalan menjadi lebih serius ketika konsumen tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui apakah produk yang dibelinya benar-benar telah difortifikasi atau justru merupakan produk palsu.

Kondisi tersebut dapat membuat konsumen merasa telah memenuhi kebutuhan gizinya, meski kandungan yang diperoleh sebenarnya tidak sesuai.

baca juga

"Konsumen yang tadi mengonsumsi kan hanya mendapatkan harapan palsulah gitu ya," ujarnya.

Sri menuturkan bahwa konsumen membeli beras fortifikasi dengan asumsi bahwa produk tersebut telah mengandung zat gizi tambahan sebagaimana informasi pada produk. Jika ternyata beras yang dikonsumsi palsu atau kandungan gizinya tidak lengkap, konsumen tidak menyadari adanya kekurangan tersebut.

Menurut dia, kondisi itu berbeda dengan konsumen yang sejak awal mengetahui bahwa asupan gizinya belum tercukupi. Pada produk palsu, konsumen justru dapat merasa kebutuhan gizinya telah dipenuhi karena sudah membeli dan mengonsumsi produk yang diyakini sebagai beras fortifikasi.

"Kalau kebetulan itu palsu, zat gizinya tidak lengkap atau zat gizinya kurang, nah dia merasa sudah makan cukup tetapi sebetulnya belum. Nah ini kan satu suasana yang lebih parah kan. Kalau merasa belum cukup karena belum makan kan jelas. Kalau yang ini merasa sudah makan tapi belum cukup, siapa yang tahu gitu kan," tandasnya.

Sri menilai pengawasan terhadap rantai pasok menjadi titik penting untuk mencegah kecurangan serupa.

"Jadi gangguan pada atau kecurangan pada sepanjang rantai pasoknya ini yang bermasalah, bukan pada tidak adanya regulasi, regulasinya kan sudah ada ya," kata dia.

Selain berdampak terhadap konsumen sasaran, dugaan pemalsuan turut berpotensi merusak kepercayaan terhadap seluruh produk fortifikasi.

Sri mengatakan penerimaan konsumen terhadap produk fortifikasi sangat bergantung pada kepercayaan bahwa klaim kandungan vitamin dan mineral pada produk tersebut benar.

"Nah begitu ada pemalsuan, ini kan yang terkena bukan hanya yang ditemukan 25 merek (palsu) itu, yang merek-merek yang jujur kan ikut dicurigai juga jadinya," tuturnya.

Menurut Sri, kondisi tersebut dapat menjadi persoalan serius bagi keberlanjutan program fortifikasi.

"Kalau seperti itu, kan menjadi tidak ada insentif positif untuk mensukseskan program fortifikasi beras ini ketika yang produsen jujur pun ikut kena dampak negatifnya," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rapat Bareng Pukat UGM, DPR Ingin Cegah Abuse of Power dalam RUU Perampasan Aset

Rapat Bareng Pukat UGM, DPR Ingin Cegah Abuse of Power dalam RUU Perampasan Aset

News | Sabtu, 19 September 2026 | 12:43 WIB

Kasus ISPA Melonjak Akibat Karhutla, Bagaimana Pemerintah Seharusnya Bersikap?

Kasus ISPA Melonjak Akibat Karhutla, Bagaimana Pemerintah Seharusnya Bersikap?

News | Jum'at, 18 September 2026 | 10:29 WIB

Pakar UGM Sarankan MBG Dimasak Langsung di Sekolah

Pakar UGM Sarankan MBG Dimasak Langsung di Sekolah

News | Kamis, 17 September 2026 | 18:40 WIB

Soal Beras Fortifikasi Palsu: Pakar UGM Sebut Tak Bisa Dibedakan dengan Mata dan Lidah

Soal Beras Fortifikasi Palsu: Pakar UGM Sebut Tak Bisa Dibedakan dengan Mata dan Lidah

News | Kamis, 17 September 2026 | 17:32 WIB

Terkini

Anggota DPRD Kota Serang Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan, Ketua PKB Mengaku Kaget

Anggota DPRD Kota Serang Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan, Ketua PKB Mengaku Kaget

Banten | Rabu, 04 November 2026 | 00:14 WIB

Comeback Dramatis! Kendal Tornado FC Kalahkan Persebaya Surabaya

Comeback Dramatis! Kendal Tornado FC Kalahkan Persebaya Surabaya

Jawa Tengah | Selasa, 03 November 2026 | 23:58 WIB

Viral Mata Melotot Bahar bin Smith Robohkan Pagar Paksa Konser Andrea Bocelli Distop

Viral Mata Melotot Bahar bin Smith Robohkan Pagar Paksa Konser Andrea Bocelli Distop

News | Selasa, 03 November 2026 | 23:56 WIB

Konser Andrea Bocelli di JIExpo Ricuh: Massa Bakar Pembatas Jalan, Wartawan Terhantam Batu

Konser Andrea Bocelli di JIExpo Ricuh: Massa Bakar Pembatas Jalan, Wartawan Terhantam Batu

News | Selasa, 03 November 2026 | 23:32 WIB

Kampung Bahari Digerebek, Satu Terduga Bandar Narkoba Diciduk dari 18 Target Polisi

Kampung Bahari Digerebek, Satu Terduga Bandar Narkoba Diciduk dari 18 Target Polisi

News | Selasa, 03 November 2026 | 23:27 WIB

Murka Prabowo Jadi Target Penyadapan Ilegal, Yusril: Ini Masalah Serius!

Murka Prabowo Jadi Target Penyadapan Ilegal, Yusril: Ini Masalah Serius!

Jawa Tengah | Selasa, 03 November 2026 | 23:23 WIB

Asa Bebas Banjir Warga Kembangan Utara: Tanggul Kali Angke Sudah 90 Persen

Asa Bebas Banjir Warga Kembangan Utara: Tanggul Kali Angke Sudah 90 Persen

News | Selasa, 03 November 2026 | 23:23 WIB

Bukan Sehari Dua Hari, Listyo Sigit Cs Sadap Presiden Selama 2 Tahun, Apa Saja yang Didengar?

Bukan Sehari Dua Hari, Listyo Sigit Cs Sadap Presiden Selama 2 Tahun, Apa Saja yang Didengar?

News | Selasa, 03 November 2026 | 23:19 WIB

Selain Presiden Prabowo, Siapa Saja Pengusaha dan Tokoh Politik yang Disadap Listyo Sigit Cs?

Selain Presiden Prabowo, Siapa Saja Pengusaha dan Tokoh Politik yang Disadap Listyo Sigit Cs?

News | Selasa, 03 November 2026 | 23:13 WIB

Penyadapan Presiden hingga Media Seret Listyo Sigit, Yusril Sebut Posisi Kepala KSP Bisa Diisi Plt

Penyadapan Presiden hingga Media Seret Listyo Sigit, Yusril Sebut Posisi Kepala KSP Bisa Diisi Plt

Sumsel | Selasa, 03 November 2026 | 23:11 WIB

×