- Kementerian Kesehatan menyatakan tren imunisasi global dan nasional mengalami penurunan sejak pandemi Covid-19 berakhir.
- Kekhawatiran berlebihan terhadap kejadian ikutan pascaimunisasi menjadi salah satu faktor utama penyebab turunnya minat masyarakat.
- Penyebaran informasi keliru tentang efek samping vaksin turut memengaruhi keraguan masyarakat untuk mendapatkan imunisasi.
Suara.com - Tren imunisasi yang menurun setelah pandemi Covid-19 tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami sejumlah negara lain. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai kekhawatiran terhadap kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) dan maraknya hoaks tentang vaksin menjadi faktor yang memengaruhi minat masyarakat untuk mendapatkan imunisasi.
Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan RI, dr. Indri Yogyaswari, mengatakan penurunan tren imunisasi juga ditemukan di sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Ia mengungkapkan hal tersebut berdasarkan pertemuannya dengan perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta sejumlah negara, seperti Filipina, Thailand, dan Kamboja.
"Memang secara global ini tren imunisasi secara umum ini menurun. Waktu kami punya kesempatan bertemu dengan teman-teman dari WHO, dari Filipina, dari Thailand, dari Kamboja, itu juga relatif menurun pasca Covid," kata Indri dalam media briefing Kemenkes bersama RCCE+ Indonesia, Kamis (29/10/2026).
Menurut Indri, ada sejumlah faktor yang memengaruhi penurunan tersebut. Namun, berdasarkan evaluasi Kemenkes, kekhawatiran masyarakat terhadap KIPI menjadi salah satu faktor terbesar.
Selain itu, informasi keliru mengenai vaksin juga berkontribusi terhadap keraguan masyarakat. Indri mencontohkan hoaks yang menyebut vaksin dapat menyebabkan kemandulan hingga autisme.
"Kemudian yang kedua adalah misinformasi, disinformasi atau hoaks tentang vaksinnya, yang katanya ini bisa menyebabkan kemandulan misalnya, ini bisa menyebabkan autis misalnya, walaupun dari sisi ilmiah, itu tidak bisa dibuktikan," ujarnya.
Indri menilai kekhawatiran terhadap efek samping dan informasi yang tidak berdasar tersebut dapat memengaruhi keputusan masyarakat untuk membawa anak mereka mendapatkan imunisasi.
"Ini yang mungkin menjadi faktor pendukung terhadap turunnya animo imunisasi," kata dia.